Minggu, 18 Mei 2014
Sederhana, Namun Rumit
Ada gelak, ada yang kalah telak...
Ada kasih, ada marah yang tanpa ampun berkisah...
Dari warna yang berbeda,
Kita memilih menjadi kenangan yang sama...
Satu hari di hari lalu,
Satu hari di hari ini,
Akan terbalut jadi kenang pada satu hari di hari esok...
Selamat menjadi kisah klasikku, Sahabat....
Dari palung yang terdalam,
Dari untaian kata yang sederhana,
Ketahuilah, aku mencintai kalian dengan cara yang sederhana kerumitannya....
Di Perpisahan Menyesakkan
Di perpisahan menyesakkan
malam ini,
Gadis bodoh ini kelak menyampaikan sesuatu padamu.
Tapi, entah...
Barangkali ia malu.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis tak rupawan ini kelak melihat punggungmu menjauh dan menghilang pada gerbong.
Tapi, entah...
Barang kali ia takut.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis yang entah siapa ini kelak mendoakan perjalananmu.
Tak ada tapi,
Karena baginya,
Sapa ataupun hadir tak ada artinya jika hati tak merapal doa.
Mungkin ia terduduk di sudut stasiun,
Memandangmu menghilang,
Menghitung langkahmu menjauh,
Memejam mata,
Menepis air mata.
Padahal ia hanya ingin bilang, "Jangan cukur kumis sampai pekan depan. Jangan lupa tiketnya. Dan, jangan lupa datang lagi."
Gadis bodoh ini kelak menyampaikan sesuatu padamu.
Tapi, entah...
Barangkali ia malu.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis tak rupawan ini kelak melihat punggungmu menjauh dan menghilang pada gerbong.
Tapi, entah...
Barang kali ia takut.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis yang entah siapa ini kelak mendoakan perjalananmu.
Tak ada tapi,
Karena baginya,
Sapa ataupun hadir tak ada artinya jika hati tak merapal doa.
Mungkin ia terduduk di sudut stasiun,
Memandangmu menghilang,
Menghitung langkahmu menjauh,
Memejam mata,
Menepis air mata.
Padahal ia hanya ingin bilang, "Jangan cukur kumis sampai pekan depan. Jangan lupa tiketnya. Dan, jangan lupa datang lagi."
Selasa, 06 Mei 2014
Untuk Saling
Matahari naik lagi,
Semangat hari lalu yang
sempat redup semalam datang kembali.
Ada hati yang terang hari
ini,
Layaknya kemarin yang
akhirnya bertemu takdir baik di hari ini.
Ia, hidup lagi
Kata orang, banyak hal di
dunia ini yang menular.
Barangkali, salah
satunya adalah semangat.
Jika bisa menularkan hal
baik,
Mengapa harus menularkan
hal buruk?
Sesederhana itu...
Mungkin, ada kesal
kemarin yang masih menggenang,
Tetapi, langit semalam
toh sempat mengulum kenang.
Semoga kesal itu lari
tunggang langgang,
Agar hari baru dapat
membangun bahagia dengan langgeng.
Daripada bahagia sendiri,
Ada baiknya bahagia
bersama.
Daripada menggenggam
bendera sendiri,
Ada baiknya memeluk dunia
bersama.
Telinga datang bersama
demi mendengar dunia lebih jelas.
Mata datang berdampingan
demi memandang dunia lebih indah.
Jemari datang dengan
ruas,
Demi mengajari manusia
bahwa saling mengisi adalah hakikat hidup.
Minggu, 20 April 2014
Seterah
Sudah gelap, gelagap gulita pekat, telinga masih
harus sengkarut dengar ia bicara.
Entah ia sadar atau tidak, tapi aku jengah. Betul.
Aku jengah. Enyahlah.
Tak ingin bicara lagi dengannya, tapi agaknya aku
lekas rindu.
Esok aku ingin suaranya lenyap, namun aku,
Resah jika tak bicara dengannya.
Andai saja ia tak melulu ucap kata itu...
Hatiku pasti gemerlap setiap dengar
suaranya.
Kepada
Garis Gelombang,
Kata yang
tak enak didengar itu, bisa kamu baca di huruf depan,
Ke bawah.
Dari yang
lebih senang kata itu untuk dihempaskan sejauh mungkin...
Kamis, 17 April 2014
Senja yang Kelelahan
Gelak tawa itu, entah
bagaimana, menyesakkan. Teramat sangat.
Meski urung aku turut,
namun hatiku tak mau menurut. Ia meringis, menangis.
Detik-detik itu berlalu
lambat terlalu. Aku hanya ingin sakit ini tak melulu.
Bisa kupinjam sejenak
tawa itu?
Bisa kupinjam sejenak
tatapan itu?
Sejenak saja.
Sampai aku lupa,
Apa itu patah hati...
Banyak yang bilang, ada
harga yang harus dibayar untuk sebuah pertemanan. Kali ini aku berdiri di halte
bus, menantikan senja menarik malam. Hanya berdoa, agar gelapnya dapat sedikit
mengaburkan sakit ini.
Bisakah, Kasih, kupinjam
sejenak hati itu?
Agar setidaknya aku tahu,
bagaimanaa itu dicintai...
Salemba, Februari, senja
yang kelelahan.
Senin, 07 April 2014
Bintang
Malam mencekam, suaraku tercekat.
Pandanganku kabur mengalur pada alun-alun braga
yang anggun.
Lapuk, lusuh, keriput, gelap, hitam, kelam...
Rayap berpesta memorak-morandakan kenangan kita.
Tak
adakah setitik kecil cahaya?
Sekadar sadarkan aku masih punya daya.
Tak adakah sebintik sinar?
Buatku tahu sedikit, aku masih punya binar.
Ada
senyum kecil yang masih kuingat,
Ada percik sinar yang masih memikat,
Meski masih bisa dihitung dengan jari, dan itu pun
tersisa,
Namun ada yang melekat,
entah bagaimana bisa.
Braga masih lapuk,
Hari sudah terang,
Hati belum mau tenang,
Ternyata bintang kecil itu tetap menyakitkan,
Malam saja sudah buatku sakit tak keruan,
Apalagi terang.
Dari yang mencintai Bintang,
Kepada yang menjadi Bintang.
Rabu, 02 April 2014
Aku Sudah Tak Patah Hati
Aku pernah patah hati.
Dan aku tak lupa rasa sakit itu.
Pecahnya,
Berkepingnya,
Leburnya...
Dan tak tahu harus memulai dari keping yang mana.
Tapi
kini aku kasmaran,
Aku jatuh cinta pada cinta...
Kami lebur,
Berkeping,
Bersama...
Namun kami tak pusing tentang bagaimana
merapikannya...
Bagaimana menyatukannya.
Kami hanya ingin tahu,
Bagaimana rasanya bersatu...
Dan aku,
Kini,
Sudah tak patah hati...
Langganan:
Postingan (Atom)
