Halaman

Senin, 14 September 2015

Akhir Pekan

Ingar-bingar dunia luar tak turut datang.
Sore berganti malam tanpa perayaan kenangan.
Tak tampak satu dua bintang.
Namun lampu kota menembus menjadi gemintang.

Kasih, seandainya ini malam kita.
Seandainya ini malam entah kapan.
Seandainya ini malam... malam yang sedang kita rajut...
Seandainya... tak perlu kata yang seadanya.

Adamu, adaku, seakan cukup.
Meski barangkali, waktu segera kuncup.
Adanya kita, sepertinya ilusi.
Apalagi jika kata yang hadir dari delusi.

Selamat berakhir pekan, Kasih
Semoga pekan ini kita tak berakhir.
Karena, toh kita tak pernah memulai.
Sampai sajak-sajak ini memuai
.

Kepada, yang berada entah di mana.
Dari, yang sedang duduk di pinggir kolam renang.

Kecoa

Malam ini ia datang lagi.
Laki-laki itu bertamu, dan aku tak ingin ia pergi.
Tawanya buatku terjaga hingga pagi.
Kisah dan kenang kami bagi.

Suatu hari, Ibu bertanya, seberapa jantankah dia?
Jangan terbuai jika hanya berbagi ceria.
Sudahkah kutahu apa yang ia takuti selain Tuhan?
Jangan saja terlena dengan gombalan akan terus bertahan.

Bukan Ibu namanya jika diam saja.
Sekali waktu ia teriak dari ruang beraroma tinja.
Kutahu pasti ia memancing lelakiku yang bersahaja.
Dengan langkah besar-besar, ia masuk seakan pahlawan berpakaian baja.


[]  Setelahnya, ada teriakan yang tak kalah kencang dari milik Ibu. Ibu bercerita, "Dia terpaku saat melihat si cokelat terjengkang. Tapi kamu seharusnya lihat ekspresi dia saat ada temannya yang terbang. Kamu kenal si Doni yang malamnya jadi Jeng Dian? Wajahnya kalah mengerikan jika dibandingkan dengan lelakimu! Mau ajak siapa lagi? Ibu masih banyak stok yang terjengkang dan yang akan terbang."


Gagang

Pertanyaan yang sama selalu saja mengawang.
Air lagi, sabun lagi, aduh, Bang!
Tiap Ibu teriak, aku lari tunggang-langgang.
Masalahnya, kamar mandi ini hanya sebesar gang!

Ya meski air membasuh tengkuk yang tegang.
Tapi ia juga buat aduh si luka di pinggang!
Rasanya ingin banting saja yang kupegang.
Air mengalir dari mulutnya yang menganga bagai gerbang.

Tanganku ingin berhenti memegang.
Biar sajalah jenuh ini meregang.
Biar sajalah aku lari tunggang-langgang.
Yang penting tak lagi bertemu si gagang.


[] I Tag You from Suhail Syaiful Rahman to me.

Minggu, 30 Agustus 2015

Anekdot

Tiktoktiktok, jarum jam bergegas untuk pindah.
Dari angka yang ini menuju angka yang sudah-sudah.
Dentamnya semakin buatku gundah.
Sebab hari ini jumlah tawaku rendah.

Bosan ini semakin menjadi.
Padahal aku tidak sedang semadi.
Mungkin sesekali harus keluar dari pribadi,
Dan mencari-cari yang berbau komedi.

Agar kelak tak hanya duduk bagai robot,
Atau tampak membosankan bagai baju bercorak polkadot.
Mungkin wajah serius ini harus dicopot.

Barangkali hanya bisa dengan anekdot.

Senin, 17 Agustus 2015

Jatuh Sajalah

Kemarin aku jatuh hati dan patah hati sekaligus. Ini bukan yang pertama, ini bukan yang kedua. Percayalah, tak akan ada yang ingin merasakannya. Hatiku tak lagi patah, ia hancur. Berkeping-keping. Ia lebur. Aku ingin sudah saja. Tapi tak bisa. Tak kuasa.

Kini aku berhadap-hadapan dengan samudra. Di ujungnya, matahari sedang jatuh hati pada airnya. Ia melebur. Menyatu dengan samudra. Akhirnya, benakku.

Jatuhlah, Matahari. Leburlah. Indahlah bersama genangan samudra. Jadilah horizon indah. Tebaslah batas itu. Aku ingin kalian bercinta..., benakku.

Aku hanyut pada ayunan angin pada air di kakiku. Ingin sekali menenggelamkan diri di sana. Terbawa alirannya sampai jauh. Sampai mana pun, yang penting tidak di sini. Di sini. Di mana kakiku menapak pasir yang hilang seketika saat air laut menyapunya. Di sini. Di mana aku kapok jatuh hati.
Sampai aku abai pada geraknya yang telah sangat urai. Namun aku terlalu takut untuk lebur kembali. Percayalah, ini rasanya menyakitkan. Melelahkan. Padahal aku hanya ingin dilelehkan.

Namun aku teringat pertanyaan seorang teman: apakah takut patah hati mencemari jalur jatuh hati?
Geming itu menyesakkan. Belum pernah kurasakan suara ombak sebegini mendesak. Apa iya aku harus jatuh saja?

Jatuh saja, Kasih....

Jatuh saja pada siapa yang engkau kehendaki. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Jangan lihat dasarnya. Di sana kepingan hatimu kemarin belum pulih. Mereka bahkan belum saling menemukan. Tetapi, jatuh saja, Kasih. Jatuh.

Leburlah. Hatimu terlalu indah untuk kaucemari dengan ketakutan.
Merdekalah. Merekahlah.


Kepada hati yang memilih hancur lebur,
Dari, pada tidak merdeka sama sekali.

Jakarta, hari kemerdekaan.

Minggu, 03 Mei 2015

Mon

:shof

Aku tak tahu mengapa kau begitu membingungkan melebihi teka-teki silang. Tak merasakah kau telah buatku seakan ditilang? Sekali waktu aku asik terjatuh, kemudian kauhilang. Sekali waktu aku asik abai, kau malah tak henti bertandang. Tak sadarkah kau, Monsieur?

Selalu saja begitu. Saat kukencangkan tali itu, kau malah lepas entah ke mana. Saat kulepaskan, engkau terus mengitariku dengan talimu. Sekali... saja, katakan apa inginmu? Apa anganmu? Jika kau kira aku tak serius dalam setiap kata, kau salah. Mungkin sesalah ku membaca setiap gerakmu, setiap ucapmu.

Monsieur…

Aku lelah. Tolong jelaskan segalanya sejelas kristal yang mengumpul pada ujung mataku saat menulis ini. Kumohon, Monsieur.

Aku letih mengejamu. Mengapa saat aku mulai belajar tanpamu, saat aku mulai belajar melepasmu dalam doa-doaku, saat aku mulai belajar mengikhlaskan masa depanku tanpamu, kau hadir begitu saja? Merenggut segalanya bagai perampok.

Percayalah, tak pernah ragu ku doakan kau dalam setiap tadahan tanganku. Dalam setiap sujud akhirku. Percayalah, s h o f. . .  .   .    . .    .

Aku tak lagi aku yang dulu merengek untuk bertemu. Tenang, aku akan terus menantimu di sini. Berjuang agar pantas untukmu. Berjuang agar kelak diridhoi-Nya. Tapi beritahu aku, kumohon… agar aku tahu bahwa aku tak berjuang sendiri. Aku mohon….

Monsieur…
Jika tidak sama sekali, mengapai engkau selalu mampirkan kita pada hampir?
Jika memang tidak, maka tidakkanlah…

Kepada,
Yang Telah dan Selalu Memenangkan Jarak…

Dari,

Yang telah Letih Dipermainkan…

Minggu, 26 April 2015

Tetaplah Hilang

Malam pertemuan kembali. Kata mereka ini reuni dan pasti seru. Aku sengaja datang duluan. Ingin menapaki kisah yang dulu sempat kusentuhkan pada dinding-dinding retak. Semoga saja tak ada yang datang sebelumku.

Saat sedang asyik berkeliling, kulihat ada yang mengusik di lantai atas. Seperti memandang cakrawala, mencari ujung yang menyala, padahal senja belum juga pulang. Aku tak begitu ingat wajahnya, namun terasa sangat lekat seperti ada yang pernah. Namun aku kembali berkeliling dan mengenyahkannya saja.

Di sana kulihat sosok itu duduk di tepi bak tanaman, di lapangan yang sepi. Kunyalakan nyali dan duduk di sisinya. Saat itu juga kukenali debar yang sama seperti dahulu. Ingin yang sama untuk terus berinteraksi namun karena entah, jadi kuenggan.

Aku takjub. Melihatmu kembali di sana. Membawaku kembali ke masa.

Saat segalanya masih begitu luhur dan jujur, kita pernah sedekat tanah dengan daun yang gugur. Saat aku selalu menyiapkan penghapus putih itu untuk terus-terusan kaupinjam dan kauhilangkan hampir setiap hari. Saat kutunggu hadirmu di hadapanku untuk menghadang dan meminta uang jajan.

Pada masa itu, aku gemar duduk di depan kelas. Aku malas jika diajak bermain lompat tali atau petak umpat bersama teman-teman perempuan lain. Aku hanya ingin duduk di sana, dan melihatmu menendang bola di bawah terik matahari. Menyulap khawatir menjadi tawa saat melihatmu terjatuh.

Dan waktu itu adalah di mana aku ingin sekali bel masuk segera berbunyi. Saat guru meminta kita mencatat. Saat kau membuat kesalahan pada buku catatan dan beranjak dari kursimu menuju kursiku. Meminjam, lalu menghilangkannya. Oh sudah kusebut di atas, ya?

Kini kau duduk di sisiku. Pada masa di mana segalanya telah berubah. Di mana kita sama-sama tahu bahwa apa yang pernah, biarlah menjadi apa yang pernah. Tak akan pernah ada artinya, sampai dunia remuk seperti semestinya.

Sampai ramai. Sampai usai.
Di kursi tengah, kusisipkan  doa yang hanya sebongkah.
Kusisipkan tanya meski mungkin jawabannya kelak hanyalah hanya.

Kepadamu yang selalu mengambil lalu menghilangkan,
Dari yang tak berharap dikembalikan, karena hanya ingin bertatapan.