Sepucuk surat ku layangkan untukmu,
Ada debu yang kutitipkan di sana.
Bersama angin yang mengharu-biru,
Terhatur salam tanpa suara.
Kutiupkan rindu pada kertas,
Sebuah rasa penuh makna.
Di mana ada yang membuncah tanpa batas,
Entah apa, mungkin itu cinta.
Cinta yang kurasa, mungkin hanya Ia,
Yang tahu rasa rindu ini kutujukan.
Tentulah hanya Ia, Sang Mahapencipta,
Bagi hati yang selalu ingin menemukan.
Lalu angin, dan ia pun bersaksi,
Di hadapan debu-debu yang melayang.
Terbang, mengitari dan menari-nari,
Mengempaskan seluruh rasa cinta, rasa rindu ini, Sayang.
Apakah sama dengan yang kau rasakan,
Sebuah rasa yang menjarah nalar.
Entah bagaimana, baiknya kulupakan,
Sebelum candu kian mengakar.
Sajak ini dikerjakan saat BajakOWOP, 2 April 2016.
oleh:
Helmi Yani,
Annisa Fitrianda Putri,
Kenti Lestari,
Salma Salsabila,
Apriastiana Dian,
Annisa Fauzia
Sabtu, 02 April 2016
Kamis, 03 Maret 2016
(Tidak) Lagi
Dan lagi, dan lagi, dan.... lagi. Sudahlah. Aku lelah, aku
lemah. Terbuang setelah berjuang.
Terkadang aku tidak mengerti, Tuhan... mengapa? Mengapa ada
yang bisa membenci sebegitunya? Mengapa ia tidak lelah? Mengapa kamu tidak
lelah, Hati? Aku tidak mengerti. Sungguh... rasanya ingin sekali mendapatkan
jawaban. Seburuk itukah aku, Tuhan? Sehina itukah aku?
Kian malam, dadaku kian sesak menahannya. Yang dulu ada kini
sudah hilang. Tidak bisakah ia menyudahinya saja? Tidak bisakah? Separah itukah
yang kutorehkan pada hatinya, Tuhan? Jika iya, apakah artinya ia memaafkanku
pada malam itu? Apakah artinya, Tuhan?
Tidak bisakah hal ini selesai begitu saja? Aku lelah. Aku lemah....
Terbuang...
Setelah berjuang....
Dan lagi... ohhh tidak lagi, Tuhan. Cukup. Cukup. Tolong bilang
cukup, Tuhan, dan cukup. Aku,
.......
Lemah.....
Lelah.....
Rabu, 02 Maret 2016
Sebuah Kelak
Aku ingin kelak, Kasih...
Sebuah esok yang tersusun dari kisah,
Tentang kita yang masih,
Meski akan sangat butuh sebuah canggih.
Mungkin, kelak akan meramu,
Aku dan kamu,
Dalam sebuah bait abu,
Yang semu.
Padahal,
Aku hanya ingin sederhana.
Tidak perlu mahal,
Barangkali bersamamu hanya mengelana.
Cukup.
Semoga cukup.
Aku.
Kamu.
Dari yang terpejam demi sebuah
kelak,
Kepada yang kejam menolak pada benak.
Sabtu, 09 Januari 2016
Berpagut
Are you paying attention? - Alan Turing (The Imitation
Game, 2014)
Day by day.
The tears stay dry.
The feelings stay stray.
And we, are stay away from ray.
The feelings stay stray.
And we, are stay away from ray.
Ada waktu di mana debar itu menyenangkan.
Ada waktu di mana gelar itu menyejukkan.
Ada hari di mana tikar itu menghangatkan.
Ada hari di mana ingar itu terasa bersahabat.
Ada waktu di mana gelar itu menyejukkan.
Ada hari di mana tikar itu menghangatkan.
Ada hari di mana ingar itu terasa bersahabat.
Namun ia menguap.
Hatiku terjerembap.
Aku memandang.
Kamu menendang.
Hatiku terjerembap.
Aku memandang.
Kamu menendang.
Perlahan aku merasa rapuh.
Perlahan hatiku mulai ricuh.
Perlahan, tapi pasti, kita mulai tergopoh.
Per-ruas jari, kita mulai berubah.
Perlahan hatiku mulai ricuh.
Perlahan, tapi pasti, kita mulai tergopoh.
Per-ruas jari, kita mulai berubah.
Are you paying attention?
Day bye day.
Memories stay fray.
The past still neigh.
Now, I'm starting to splay...
Memories stay fray.
The past still neigh.
Now, I'm starting to splay...
Aku lelah selalu merasa yang butuh.
Aku gerah selalu merasa yang bodoh.
Aku ingin kita bertemu.
Meski kini segalanya mulai terasa semu.
Aku gerah selalu merasa yang bodoh.
Aku ingin kita bertemu.
Meski kini segalanya mulai terasa semu.
Adakah kamu memperhatikan?
The clock is ticking.
The block is sticking.
Are you bricking?
Are you paying attention?
The block is sticking.
Are you bricking?
Are you paying attention?
Aku dan mereka masih menantimu.
Aku dan mereka masih merasa takut.
Aku dan mereka masih menantimu.
Untuk berpagut, bersama. Kemarilah, Kasih...
Aku dan mereka masih merasa takut.
Aku dan mereka masih menantimu.
Untuk berpagut, bersama. Kemarilah, Kasih...
-dari aku yang mendesak.
-kepadamu yang mungkin mulai merasa sesak.
-kepadamu yang mungkin mulai merasa sesak.
Senin, 14 Desember 2015
Belajar Menyerah
Mulia, apa dan bagaimana itu menyerah?
Jam dinding
itu berdentang lagi. Kali ini dentangnya hanya sekali. Pukul 12 tengah malam.
Tepat. Dan benakku masih bekerja keras pada titik bifurkasi itu, antara terus
merajut khawatir akan ia, atau menyerah saja tidur dengan sebongkah batu es di
dalam dada.
Aku masih
mengeja hari-hari itu. Sesekali segalanya tampak manis, sesekali esok terasa
kian mustahil. Napasku terhela keras. Lelah sekali, Mulia...
Aku lelah
terus mengeja yang telah. Mungkin aku tampak kokoh, namun rasanya aku renta dan
tergopoh. Bisakah sekali saja, segalanya terasa pasti tanpa eja. Walaupun,
rasanya betapa pengecut diri ini jika selalu berharap yang pasti padahal
ketidakpastian ialah sebaik-baiknya pecut.
Mulia, apa dan bagaimana itu menyerah?
Entah telah
dikutuk siapa atau apa, namun aku belum pernah merasa kepedulian menjadi
sesakit ini. Entah karena zaman atau karena aku saja, namun rasanya malu sekali
menjadi yang paling peduli, lagi paling cerewet menanyakan ini dan itu.
Belum,
Mulia, aku belum pernah merasakan mencoba meraih seberat ini.
Dan aku mulai
mendamba hidup dalam ketidakpedulian. Karena, percayalah, kepedulian ini mulai terasa begitu menyesakkan.
Jadi, Mulia, tolong ajari aku untuk
menyerah? Karena rasa lelah ini mulai melelahkan, Mulia......
Sabtu, 26 September 2015
Kita yang Tidak
Mungkin
aku hanya perempuan entah siapa yang buatmu rela pergi ke minimarket untuk beli
pembalut.
Mungkin aku hanya perempuan entah siapa yang buatmu rela berbohong bahwa rumah kita searah padahal rumahku di Timur, rumahmu di Barat.
Mungkin aku hanya perempuan entah siapa yang buatmu rela bangun pagi demi menerjang macet Jakarta yang aduhai.
Mungkin, Kasih, aku hanya perempuan entah siapa yang rela buatmu nyalakan keran di pagi buta agar tampak tampan.
Mungkin aku hanya perempuan entah siapa yang buatmu rela berbohong bahwa rumah kita searah padahal rumahku di Timur, rumahmu di Barat.
Mungkin aku hanya perempuan entah siapa yang buatmu rela bangun pagi demi menerjang macet Jakarta yang aduhai.
Mungkin, Kasih, aku hanya perempuan entah siapa yang rela buatmu nyalakan keran di pagi buta agar tampak tampan.
Ini
klasik, Kasih.
Kisah yang didamba siapa saja.
Kisah yang dikhayalkan pada jeda di setiap hari.
Kisah yang diindahkan sebelum otak belum betul-betul lelah lalu lelap.
Kisah yang didamba siapa saja.
Kisah yang dikhayalkan pada jeda di setiap hari.
Kisah yang diindahkan sebelum otak belum betul-betul lelah lalu lelap.
Kau
tak akan pernah paham betapa aku ingin.
Kau tak akan pernah padam dari berapa yang kuhitung sampai malam mendingin.
Kasih, kau tidak akan pernah paham.
Bahwa sampai kapanpun, kau tak akan pernah padam.
Kau tak akan pernah padam dari berapa yang kuhitung sampai malam mendingin.
Kasih, kau tidak akan pernah paham.
Bahwa sampai kapanpun, kau tak akan pernah padam.
Meski
kau rela carikan pembalut sampai ke Kutub,
Namun aku tak berhasil buatmu rela cairkan hati sampai Kutub tutup.
Meski kau rela searahkan rumah kita,
Namun aku tak berhasil buatmu searahkan hati kita.
Namun aku tak berhasil buatmu rela cairkan hati sampai Kutub tutup.
Meski kau rela searahkan rumah kita,
Namun aku tak berhasil buatmu searahkan hati kita.
Mungkin
aku memang perempuan entah siapa dari mana yang berhasil buatmu berjuang begini
dan begitu di padatnya lalu lintas yang menyebalkan.
Namun, agaknya, Kasih, aku tak berhasil buatmu berjuang terlepas dari Rosariomu.
Namun, agaknya, Kasih, aku tak berhasil buatmu berjuang terlepas dari Rosariomu.
Kepada,
dada yang berkalung Rosario.
Dari, dada yang berkalung kerudung.
Dari, dada yang berkalung kerudung.
Senin, 14 September 2015
Akhir Pekan
Ingar-bingar dunia luar
tak turut datang.
Sore berganti malam tanpa perayaan kenangan.
Tak tampak satu dua bintang.
Namun lampu kota menembus menjadi gemintang.
Sore berganti malam tanpa perayaan kenangan.
Tak tampak satu dua bintang.
Namun lampu kota menembus menjadi gemintang.
Kasih, seandainya ini
malam kita.
Seandainya ini malam entah kapan.
Seandainya ini malam... malam yang sedang kita rajut...
Seandainya... tak perlu kata yang seadanya.
Seandainya ini malam entah kapan.
Seandainya ini malam... malam yang sedang kita rajut...
Seandainya... tak perlu kata yang seadanya.
Adamu, adaku, seakan
cukup.
Meski barangkali, waktu segera kuncup.
Adanya kita, sepertinya ilusi.
Apalagi jika kata yang hadir dari delusi.
Meski barangkali, waktu segera kuncup.
Adanya kita, sepertinya ilusi.
Apalagi jika kata yang hadir dari delusi.
Selamat berakhir pekan,
Kasih
Semoga pekan ini kita tak berakhir.
Karena, toh kita tak pernah memulai.
Sampai sajak-sajak ini memuai.
Kepada, yang berada entah di mana.
Dari, yang sedang duduk di pinggir kolam renang.
Semoga pekan ini kita tak berakhir.
Karena, toh kita tak pernah memulai.
Sampai sajak-sajak ini memuai.
Kepada, yang berada entah di mana.
Dari, yang sedang duduk di pinggir kolam renang.
Kecoa
Malam
ini ia datang lagi.
Laki-laki itu bertamu, dan aku tak ingin ia pergi.
Tawanya buatku terjaga hingga pagi.
Kisah dan kenang kami bagi.
Laki-laki itu bertamu, dan aku tak ingin ia pergi.
Tawanya buatku terjaga hingga pagi.
Kisah dan kenang kami bagi.
Suatu hari, Ibu
bertanya, seberapa jantankah dia?
Jangan terbuai jika hanya berbagi ceria.
Sudahkah kutahu apa yang ia takuti selain Tuhan?
Jangan saja terlena dengan gombalan akan terus bertahan.
Jangan terbuai jika hanya berbagi ceria.
Sudahkah kutahu apa yang ia takuti selain Tuhan?
Jangan saja terlena dengan gombalan akan terus bertahan.
Bukan Ibu
namanya jika diam saja.
Sekali waktu ia teriak dari ruang beraroma tinja.
Kutahu pasti ia memancing lelakiku yang bersahaja.
Dengan langkah besar-besar, ia masuk seakan pahlawan berpakaian baja.
Sekali waktu ia teriak dari ruang beraroma tinja.
Kutahu pasti ia memancing lelakiku yang bersahaja.
Dengan langkah besar-besar, ia masuk seakan pahlawan berpakaian baja.
[]
Setelahnya, ada teriakan yang tak kalah kencang dari milik Ibu. Ibu bercerita,
"Dia terpaku saat melihat si cokelat terjengkang. Tapi kamu seharusnya
lihat ekspresi dia saat ada temannya yang terbang. Kamu kenal si Doni yang
malamnya jadi Jeng Dian? Wajahnya kalah mengerikan jika dibandingkan dengan
lelakimu! Mau ajak siapa lagi? Ibu masih banyak stok yang terjengkang dan yang
akan terbang."
Gagang
Pertanyaan yang
sama selalu saja mengawang.
Air lagi, sabun lagi, aduh, Bang!
Tiap Ibu teriak, aku lari tunggang-langgang.
Masalahnya, kamar mandi ini hanya sebesar gang!
Air lagi, sabun lagi, aduh, Bang!
Tiap Ibu teriak, aku lari tunggang-langgang.
Masalahnya, kamar mandi ini hanya sebesar gang!
Ya meski air
membasuh tengkuk yang tegang.
Tapi ia juga buat aduh si luka di pinggang!
Rasanya ingin banting saja yang kupegang.
Air mengalir dari mulutnya yang menganga bagai gerbang.
Tapi ia juga buat aduh si luka di pinggang!
Rasanya ingin banting saja yang kupegang.
Air mengalir dari mulutnya yang menganga bagai gerbang.
Tanganku ingin
berhenti memegang.
Biar sajalah jenuh ini meregang.
Biar sajalah aku lari tunggang-langgang.
Yang penting tak lagi bertemu si gagang.
Biar sajalah jenuh ini meregang.
Biar sajalah aku lari tunggang-langgang.
Yang penting tak lagi bertemu si gagang.
Minggu, 30 Agustus 2015
Anekdot
Tiktoktiktok, jarum jam bergegas
untuk pindah.
Dari angka yang ini menuju angka
yang sudah-sudah.
Dentamnya semakin buatku gundah.
Sebab
hari ini jumlah tawaku rendah.
Bosan ini semakin menjadi.
Padahal aku tidak sedang semadi.
Mungkin sesekali harus keluar
dari pribadi,
Dan mencari-cari
yang berbau komedi.
Agar kelak tak hanya duduk bagai
robot,
Atau tampak membosankan bagai
baju bercorak polkadot.
Mungkin wajah serius ini harus
dicopot.
Barangkali hanya bisa dengan anekdot.
Senin, 17 Agustus 2015
Jatuh Sajalah
Kemarin aku
jatuh hati dan patah hati sekaligus. Ini bukan yang pertama, ini bukan yang
kedua. Percayalah, tak akan ada yang ingin merasakannya. Hatiku tak lagi patah,
ia hancur. Berkeping-keping. Ia lebur. Aku ingin sudah saja. Tapi tak bisa. Tak
kuasa.
Kini aku
berhadap-hadapan dengan samudra. Di ujungnya, matahari sedang jatuh hati pada
airnya. Ia melebur. Menyatu dengan samudra. Akhirnya, benakku.
Jatuhlah, Matahari. Leburlah. Indahlah
bersama genangan samudra. Jadilah horizon indah. Tebaslah batas itu. Aku ingin
kalian bercinta...,
benakku.
Aku hanyut
pada ayunan angin pada air di kakiku. Ingin sekali menenggelamkan diri di sana.
Terbawa alirannya sampai jauh. Sampai mana pun, yang penting tidak di sini. Di sini.
Di mana kakiku menapak pasir yang hilang seketika saat air laut menyapunya. Di sini.
Di mana aku kapok jatuh hati.
Sampai aku
abai pada geraknya yang telah sangat urai. Namun aku terlalu takut untuk lebur
kembali. Percayalah, ini rasanya menyakitkan. Melelahkan. Padahal aku hanya
ingin dilelehkan.
Namun aku
teringat pertanyaan seorang teman: apakah
takut patah hati mencemari jalur jatuh hati?
Geming itu
menyesakkan. Belum pernah kurasakan suara ombak sebegini mendesak. Apa iya aku
harus jatuh saja?
Jatuh saja,
Kasih....
Jatuh saja
pada siapa yang engkau kehendaki. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Jangan lihat
dasarnya. Di sana kepingan hatimu kemarin belum pulih. Mereka bahkan belum
saling menemukan. Tetapi, jatuh saja, Kasih. Jatuh.
Leburlah.
Hatimu terlalu indah untuk kaucemari dengan ketakutan.
Merdekalah.
Merekahlah.
Kepada hati yang memilih hancur
lebur,
Dari, pada tidak merdeka sama
sekali.
Jakarta,
hari kemerdekaan.
Minggu, 03 Mei 2015
Mon
:shof
Aku tak tahu mengapa kau begitu membingungkan
melebihi teka-teki silang. Tak merasakah kau telah buatku seakan ditilang? Sekali
waktu aku asik terjatuh, kemudian kauhilang. Sekali waktu aku asik abai, kau
malah tak henti bertandang. Tak sadarkah kau, Monsieur?
Selalu saja begitu. Saat kukencangkan tali itu, kau
malah lepas entah ke mana. Saat kulepaskan, engkau terus mengitariku dengan
talimu. Sekali... saja, katakan apa inginmu? Apa anganmu? Jika kau kira aku tak
serius dalam setiap kata, kau salah. Mungkin sesalah ku membaca setiap gerakmu,
setiap ucapmu.
Monsieur…
Aku lelah. Tolong jelaskan segalanya sejelas kristal
yang mengumpul pada ujung mataku saat menulis ini. Kumohon, Monsieur.
Aku letih mengejamu. Mengapa saat aku mulai belajar
tanpamu, saat aku mulai belajar melepasmu dalam doa-doaku, saat aku mulai
belajar mengikhlaskan masa depanku tanpamu, kau hadir begitu saja? Merenggut segalanya
bagai perampok.
Percayalah, tak pernah ragu ku doakan kau dalam
setiap tadahan tanganku. Dalam setiap sujud akhirku. Percayalah, s h o f. . .
. . . .
.
Aku tak lagi aku yang dulu merengek untuk bertemu. Tenang,
aku akan terus menantimu di sini. Berjuang agar pantas untukmu. Berjuang agar
kelak diridhoi-Nya. Tapi beritahu aku, kumohon… agar aku tahu bahwa aku tak
berjuang sendiri. Aku mohon….
Monsieur…
Jika tidak sama sekali, mengapai engkau selalu
mampirkan kita pada hampir?
Jika memang tidak, maka tidakkanlah…
Kepada,
Yang
Telah dan Selalu Memenangkan Jarak…
Dari,
Yang
telah Letih Dipermainkan…
Minggu, 26 April 2015
Tetaplah Hilang
Malam pertemuan
kembali. Kata mereka ini reuni dan pasti seru. Aku sengaja datang duluan. Ingin
menapaki kisah yang dulu sempat kusentuhkan pada dinding-dinding retak. Semoga saja
tak ada yang datang sebelumku.
Saat sedang
asyik berkeliling, kulihat ada yang mengusik di lantai atas. Seperti memandang
cakrawala, mencari ujung yang menyala, padahal senja belum juga pulang. Aku tak
begitu ingat wajahnya, namun terasa sangat lekat seperti ada yang pernah. Namun
aku kembali berkeliling dan mengenyahkannya saja.
Di sana
kulihat sosok itu duduk di tepi bak tanaman, di lapangan yang sepi. Kunyalakan nyali
dan duduk di sisinya. Saat itu juga kukenali debar yang sama seperti dahulu. Ingin
yang sama untuk terus berinteraksi namun karena entah, jadi kuenggan.
Aku takjub.
Melihatmu kembali di sana. Membawaku kembali ke masa.
Saat segalanya
masih begitu luhur dan jujur, kita pernah sedekat tanah dengan daun yang gugur.
Saat aku selalu menyiapkan penghapus putih itu untuk terus-terusan kaupinjam
dan kauhilangkan hampir setiap hari. Saat kutunggu hadirmu di hadapanku untuk
menghadang dan meminta uang jajan.
Pada masa
itu, aku gemar duduk di depan kelas. Aku malas jika diajak bermain lompat tali
atau petak umpat bersama teman-teman perempuan lain. Aku hanya ingin duduk di
sana, dan melihatmu menendang bola di bawah terik matahari. Menyulap khawatir
menjadi tawa saat melihatmu terjatuh.
Dan waktu
itu adalah di mana aku ingin sekali bel masuk segera berbunyi. Saat guru
meminta kita mencatat. Saat kau membuat kesalahan pada buku catatan dan
beranjak dari kursimu menuju kursiku. Meminjam, lalu menghilangkannya. Oh sudah
kusebut di atas, ya?
Kini kau
duduk di sisiku. Pada masa di mana segalanya telah berubah. Di mana kita
sama-sama tahu bahwa apa yang pernah, biarlah menjadi apa yang pernah. Tak akan
pernah ada artinya, sampai dunia remuk seperti semestinya.
Sampai ramai.
Sampai usai.
Di kursi
tengah, kusisipkan doa yang hanya
sebongkah.
Kusisipkan
tanya meski mungkin jawabannya kelak hanyalah hanya.
Kepadamu
yang selalu mengambil lalu menghilangkan,
Dari
yang tak berharap dikembalikan, karena hanya ingin bertatapan.
Minggu, 01 Februari 2015
Kepada Kita
Kamu dan aku pada suatu hari,
Di antara rak supermarket itu, kamu akan mempertanyakanku mengapa membeli
produk pembalut yang ini dan bukan yang itu. Mengapa bukan yang warnanya merah
muda seperti kesukaanku. Mengapa tidak yang tidak ada sayapnya.
Di antara rak sayur mayur, kamu akan mempertanyakanku mengapa bukan cabai
yang besar, panjang, dan merah menyala? Mengapa malah cabai yang kecil dan
tidak merah. Mengapa bukan tempe yang dibungkus plastik dan malah yang
dibungkus daun pisang.
Meski begitu, kamu tetap tak protes dengan trolli yang kupinta untuk kamu
jaga.
Di antara rak buku itu, kamu akan kembali mempertanyakan mengapa bukan buku
karya si a yang terkenal dan malah buku si b yang ada di rak bagian paling
bawah. Mengapa bukan di rak buku paling laris, tapi malah di rak yang entah ada
di sebelah mana itu.
Di antara rak alat tulis itu, kamu akan terus bertanya mengapa bukan
memopad yang ini dan malah yang itu. Mengapa bukan penghapus yang hitam dan
malah yang putih. Mengapa bukan spidol yang satu
paket dan malah yang dijual terpisah. Mengapa bukan penggaris yang sekali
panjang, dan malah yang bisa dilipat.
Meski begitu, kamu tetap asyik menemaniku sampai kasir.
Kamu dan aku pada suatu hari,
Kita akan duduk entah untuk berapa lama, menikmati denyut jarum jam.
Mungkin sampai bolu marmer kita mengembang. Atau sampai suara penjual bakpao
kesukaan kita, yang sudah kita nanti-nanti sejak berminggu-minggu, melengking dan membuat kita lari kalang-kabut untuk mencegatnya, sampai rasanya susah sekali memutuskan siapa yang lari mengejar tukang bakpao, siapa yang ambil uang untuk bayar. Atau mungkin
sampai ceret mendesis karena kita terlalu lama memanggangnya. Atau, hanya
sampai kita berhenti jatuh cinta dengan hening ini.
Kamu akan mempertanyakan mengapa
hari ini aku hanya sibuk memandangimu, tersenyum, menyisir rambut klimismu
dengan jemari gendutku, lalu mengatakan, “Hay, aku sayang kamu.” Kamu akan
mempertanyakan mengapa aku tak merajut mimpi dan merentang rencana untuk kita
di hari esok atau di hari entah kapan. Dan aku akan menjawab, “Sudahlah. Hari ini
singkat. Hari ini aku ingin kamu tahu betapa aku mencintaimu. Karena segala
angan dan asa itu sudah dan akan kupikirkan saat kita berjarak, Kasih.”
Kamu dan aku pada suatu hari,
Akan rebah di padang ilalang. Merasakan
detak langit, denyut tanah. Merasakan bisikan angin, goresan rumput.
Dan,
Kepada kita pada suatu hari itu,
Nikmatilah. Jatuh cintalah. Mencintailah.
Dicintailah. Karena masa lalumu telah berjuang setengah mati demi berhenti
takut diabaikan.
Dari,
Aku di masa lalu kalian.
Senin, 05 Januari 2015
Ook Maga Do Do
Kasih, tidakkah kamu
lihat bahwa kita cocok dan selalu cocok dalam ketidakcocokkan kita? Kita
sempurna dalam ketidakcocokkan ini. Berikan aku ruang, berikan aku waktu,
berikan aku kesempatan membuktikan bahwa
memang kita cocok dalam ketidakcocokkan ini.
Aku mencintai segala
ketidakcocokkan ini. Aku mencintai kita yang kerap duduk dengan corak yang
berbeda. Aku mencintai kasih yang mencintai ketidakcocokkan ini. Kasih, aku
mencintaimu.
Pada heningnya malam,
di bawah selimut tebal, dinaungi gelap kamar, aku tak pernah lelah membayangkan
kita berdebat tentang siapa yang paling cinta, siapa yang paling rindu, dan
siapa yang paling pertama jatuh cinta.
Pada riuhnya bus kota,
di sebelah ibu-ibu gendut yang pulang dari pasar, dinaungi matahari yang riang,
aku selalu gemar membayangkan betapa kita akan terus tidak setuju tentang
rahasia pernikahan langgeng, apakah suami selalu mengikuti mau istri, ataukah
istri yang mengalah, atau bahkan mereka saling mengerti.
Pada gegapnya kembang
api di malam perayaan entah apa, dinaungi keriaan tawa keluarga, aku tak pernah
absen membayangkan betapa kita akan selalu setuju untuk tidak setuju bahwa
rumah adalah soal rasa bukan bangunan belaka, bahwa Kasih adalah kamu, dan
bahwa cinta adalah kita.
Dan pada akhirnya aku
harus berhadapan dengan ketidakcocokkan kita yang paling nyata. Bahwa aku cinta
dan kamu tidak. Bahwa aku rindu dan kamu tak ingin melulu. Bahwa aku ingin dan
kamu enggan.
Dan pada akhirnya aku
harus bangun. Menatap dunia yang retak di balik tirai putih. Menyadari bahwa
tak akan ada namaku dalam lelap, lelah, maupun lengahmu. Bahwa memang tak
mungkin aku mengikis lelahmu.
Dan pada akhirnya,
masalah ada padaku. Bahwa aku memaksa.
Aku memaksa cinta
hidup, padahal ia lebih baik lenyap.
Aku memaksa rindu
menghias, padahal ia mengais.
Aku memaksa kita
berdebat siapa yang paling, padahal seharusnya sekadar tahu kamu pernah ingin
saja sudah cukup.
Kasih, aku tak mampu
mengotori jalur jatuh cinta ini. Aku terlalu cinta. Aku terlalu lepas kendali.
Aku hanya ingin cinta. Semoga itu cukup.
Iya, semoga itu cukup.
Selamat Malam. Tapi ingat, aku tetap cinta meski kelak malam tak lagi selamat.
Meski kelak aku lupa, aku akan ingat lagi, ini hanya masalah aku yang sedang
menempuh jalur amnesia untuk yang kesekian kalinya.
Jika kelak tak ada lagi
yang cinta, mungkin aku akan bersembunyi. Jika kelak tak ada lagi yang rindu,
mungkin aku sudah menghilang. Dan jika kelak kamu sudah sangat jauh, aku sudah
kembali dari perjalanan amnesia, dan merasa cukup dengan cinta ini.
Kepada
yang pernah, sedang, dan sepertinya akan terus pas untukku,
Dari
yang pernah, sedang, dan sepertinya akan selalu kautolak mentah-mentah.
Senin, 15 Desember 2014
Kenang
Pada
air mata yang menggenang, malam terus mengenang. Kisah lalu terbang bagai
bumerang. Entah kembali karena dilempar, atau memang sebetulnya ia belum pergi
ke mana-mana. Lagu lalu mengalun mengiringi aku yang melamun. Di pinggir kusen
lusuh yang sebentar lagi rapuh digerogoti rayap rakus, aku memandang kawanan
kunang yang mengerjap terbang ke sana kemari. Kepalaku segelap malam. Kenang
kita seterang kunang. Jika ada pilihan tenggelam, aku menyesal dulu belajar
berenang. Jika ada pilihan berhenti, aku menyesal tahu caranya memulai. Jika
ada pilihan tak sayang, aku menyesal pernah kenal.
Setelah
malam itu, segalanya berubah. Hari seakan lebih menyukai gelap dibanding terang.
Matahari selalu datang kesiangan. Langit suhunya tak pernah turun. Gelegar
petir di sana sini. Kelakar angin memekakkan telinga. Tubuh gaia tak pernah
kering, nyaris terlalu basah. Ingin sesekali melihat langit seperti dulu.
Secerah senyummu. Sehangat keningku sesaat setelah kaukecup. Sedingin suaramu
yang merajuk pada saluran telepon jika lama tak bertemu. Seindah pantulan kita
dengan mulut penuh busa pasta gigi pada cermin. Selucu gengsi kita yang
akhirnya pergi perlahan sesaat setelah pitam mulai turun.
Ingatan
melayang pada hari pertama saat tangan kita berjabat. Di sana tanganku merekam
telapak tanganmu yang kasar dan kapalan. Kemudian suara berat khas perokokmu
menyebutkan namamu perlahan. Telingaku merekam namamu, mengingatnya tak sulit,
beda perkara dengan melupakannya. Selanjutnya suaramu menyemburkan namaku satu
detik setelah aku menyebut namaku. Saat itu segalanya berubah. Aku jatuh cinta
pada caramu menyebutkan namaku. Aku meleleh ketika telapakmu menyentuh kulitku.
Jangan
tanya mengapa, karena aku tak punya jawaban. Jangan tanya bagaimana, karena aku
tak pandai merangkai. Jangan tanyakan lagi apa-apa, karena aku sedang
terbata-bata.
Aku
hanya bisa. Aku bisa mengingat segalanya. Bahkan saat kita berbaris keluar
kereta, aku masih ingat irama detakmu. Musik terindah. Aku bisa mengenali
segalanya. Langkah kakimu, suara berdecit yang ditimbulkan karet dan ubin.
Detakku akan langsung berdentam tak keruan. Aku bisa juga jatuh. Jatuh hati
yang tak terperi sakitnya. Seperti apa yang sudah tertulis, jatuh maka aku
hancur.
Berkeping-keping.
Di
bawah meja makan itu, dengan aroma tempe goreng dan sambal terasi kesukaanmu,
Kepingan
hatiku menemukan diri mereka, lalu merapatkan diri,
Sampai
lampu di atas meja dimatikan, decitan tikus kembali menghancurkannya lagi.
Esok
pagi, saat melihat kue bolu pandanmu tercuil sedikit, hatiku kembali merasakan
kehampaan.
Kehampaan
yang panjang.
Kepada yang ada
dalam kenang,
Dari yang tak ingin
kaukenang.
Minggu, 01 Juni 2014
Aku Ialah Apa yang Serba Tak Kau
Aku ialah luas yang lelah kaujelajah.
Aku ialah ramai yang memekakanmu.
Aku ialah sempit yang menyesakkanmu.
Aku ialah sepi yang menusuk-nusukmu.
Aku ialah apa yang serba tak kau...
Aku sempat merapat menyelinap melalui anak rambutmu.
Tetapi ia terlalu rapuh.
Patah, mati, lalu jatuh. Sebelum sempat bercengkerama dengan jemarimu.
Aku ialah apa yang serba tak kau...
Sekali aku pernah menjelma menjadi sendok kecil untuk kopi pagimu.
Tapi kau kesiangan,
Jadilah aku cemberut di pojok dapur.
Aku ialah apa yang serba tak kau...
Aku bola kaki yang kempes dan kau terlalu malas memompanya.
Aku cukuran kumis yang meski tumpul, tapi tak kunjung kau buang.
Aku ujung-ujung tali sepatu yang kerap kaubiarkan terinjak saat tengah terburu.
Dari yang serba tak kau,
Kepada yang entah bagaimana sangat aku.
Kamis, 22 Mei 2014
Kelip
derit pintu itu terdengar lagi. ngiangnya bangunkan kenang yang sempat lelap. berbaringlah lagi, Kekasih. aku lelah memandangmu terus-terusan. aku jengah membiarkannya mengendap setiap malam dan mengambil bagian dari diriku yang berharga. aku ingin mati. berkali-kali kuhapus, berkali-kali aku pupus. tak peduli sebanyak apa aku mengedip mata demi mengendapkanmu, sebanyak itu pula kaujerang aku dengan kenang. kaudera aku. meski begitu, entah bagaimana aku tak jera. aku tak akan pernah mampu jera, meski telah tak mampu lagi benderang.
pada satu sore di sebuah rumah kecil penuh sesak dengan orang-orang, kita bertemu. seharusnya bukan untuk kali pertama, namun entahlah rasanya seperti yang pertama. sekali waktu sebelum hari itu, kita ada di sebuah tempat berundak-udak bersama, namun tak saling sapa, bahkan mungkin tak saling tahu keberadaan satu sama lain. kita asing.
tiga hari bersama, tidur di satu atap, dipisahkan pintu-pintu, sholat bergantian dengan sajadah yang sama, berwudhu dari air mengalir yang sama. namun nihil. tak kutemukan tanda-tanda jatuh cinta sama sekali. meski tak kumungkiri, aku salut pada ketaat dan pengetahuan agamamu. dan berhenti di sana. hatiku berkata, cukup. kita pulang dengan langkah masing-masing, dan masih berakhir asing.
tak lama kita bertemu lagi. karena keperluan satu dan lain hal. di sana, adalah pertama kalinya kita memiliki kontak yang tak hanya asal lewat. aku ingat, sebuah mantel biru tua. kau berikan sebagai jaminan. aku ingat, mulutmu mengucap namaku, matamu mengeja ekspresiku, ada kalimat yang hendak lahir namun tak kaurelakan. sebuah kereta melaju dengan kecepatan yang tak dapat kita kira, lalu menghempaskan segala yang sempat aku miliki darimu dalam detik yang singkat. dan aku, merasa itu lebih dari cukup.
cinta mendera tanpa aba-aba. ia datang begitu saja seperti angin yang tak terlihat, namun berhasil menerbangkan apa yang telah sempat kujaga, kurapikan, dan kususun di atas meja. kini semuanya berantakan berserakan di bawah meja, bahkan ada yang hilang. lembar-lembar kepatuhan itu hilang melanglang buana entah ke mana. tumpukan yang tadinya berhelai-helai, kini mengikis sehelai-helai. pada tempat yang tak kukira sama sekali. sebuah ruang gelap mirip ruang cuci foto, tak sengaja kutangkap matamu yang memanjang bagai naga.
mendadak waktuku mengkristal. mendadak segalanya terasa abadi. mendadak semangatku menanjak berundak-undak sampai batas langit dan gunung tak lagi tampak. cukup sekian detik. angin itu hanya hadir sekian detik, tapi berhari-hari serakannya tak juga beres. hari itu berakhir layaknya baju-baju sesak dalam koper, kupaksakan masuk, asal menghilang dari benak. kutekan habis perasaan bahagia itu, sampai titik terendah. terlelap sampai suara pintu di samping kamarku berderit, membangunkanku, membangunkanmu. membangunkan matamu. aku, sesak setengah mati.
ada hari-hari rutin yang kita sulam bersama. matamu masih mata yang sama. si mata naga yang sering kali kutangkap tak sengaja mengeja sorot mataku. jangan salahkan aku, jika aku besar kepala. matamu yang tak jera mencuri pandang, pilihanmu duduk di sisiku tanpa mengampuni jeda. ada sisi luas di sana, kau malah duduk di sisiku. ada yang bicara di hadapanmu, matamu malah menatapku di ujung meja.
aku hanya minta hal sederhana ini, berhentilah sejenak. jangan kabur. aku ingin menikmati keindahan itu. aku ingin tahu warna bola matamu. aku ingin putih itu berpendar lagi. aku ingin menangkap sipumu. aku, ingin sekali, merekam gugupmu. sekali saja. agar aku tahu rasanya menjadi sumber gugup gagap seseorang.
oh Tuhan, bisakan pekan ini diberikan tombol percepatan? aku merindu. aku tak ingin menyapamu melalui media apa pun. aku lelah mencari-cari bahan obrolan melulu. aku lelah memikirkan kau sedang apa. aku merindu dan hanya ingin bertemu. aku tak butuh bicara, aku hanya ingin mencuri pandang. memandangmu dari kejauhan, dari belakang, atau dari sisi mana pun.
aku. . . . .
merindumu,
sete. . . . nga. . . .h. . . . .
m. . . . . . . . . .
. . . . . . . .a. . . . .
t. . . . . . .i. . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Minggu, 18 Mei 2014
Sederhana, Namun Rumit
Ada gelak, ada yang kalah telak...
Ada kasih, ada marah yang tanpa ampun berkisah...
Dari warna yang berbeda,
Kita memilih menjadi kenangan yang sama...
Satu hari di hari lalu,
Satu hari di hari ini,
Akan terbalut jadi kenang pada satu hari di hari esok...
Selamat menjadi kisah klasikku, Sahabat....
Dari palung yang terdalam,
Dari untaian kata yang sederhana,
Ketahuilah, aku mencintai kalian dengan cara yang sederhana kerumitannya....
Di Perpisahan Menyesakkan
Di perpisahan menyesakkan
malam ini,
Gadis bodoh ini kelak menyampaikan sesuatu padamu.
Tapi, entah...
Barangkali ia malu.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis tak rupawan ini kelak melihat punggungmu menjauh dan menghilang pada gerbong.
Tapi, entah...
Barang kali ia takut.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis yang entah siapa ini kelak mendoakan perjalananmu.
Tak ada tapi,
Karena baginya,
Sapa ataupun hadir tak ada artinya jika hati tak merapal doa.
Mungkin ia terduduk di sudut stasiun,
Memandangmu menghilang,
Menghitung langkahmu menjauh,
Memejam mata,
Menepis air mata.
Padahal ia hanya ingin bilang, "Jangan cukur kumis sampai pekan depan. Jangan lupa tiketnya. Dan, jangan lupa datang lagi."
Gadis bodoh ini kelak menyampaikan sesuatu padamu.
Tapi, entah...
Barangkali ia malu.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis tak rupawan ini kelak melihat punggungmu menjauh dan menghilang pada gerbong.
Tapi, entah...
Barang kali ia takut.
Di perpisahan menyesakkan malam ini,
Gadis yang entah siapa ini kelak mendoakan perjalananmu.
Tak ada tapi,
Karena baginya,
Sapa ataupun hadir tak ada artinya jika hati tak merapal doa.
Mungkin ia terduduk di sudut stasiun,
Memandangmu menghilang,
Menghitung langkahmu menjauh,
Memejam mata,
Menepis air mata.
Padahal ia hanya ingin bilang, "Jangan cukur kumis sampai pekan depan. Jangan lupa tiketnya. Dan, jangan lupa datang lagi."
Langganan:
Postingan (Atom)
