Halaman

Sabtu, 08 Maret 2014

Gaudeamus Igitur

Hari bergulir dari kemarin menjadi hari ini.
Esok tak tentu jadi milikmu, Kawan.
Namun, berharap sembari berusaha agar segala esok akan jadi lebih baik tak ada salahnya.
Dan jika usiamu berhasil bertambah hari ini,
Risau itu lebih baik dibuang sebentar.
Isilah dengan doa, syukur, agar nikmat bertambah dan jauh dari kufur.

Hai-ku selalu ingin menyapamu setiap saat, tapi sepertinya keberanianku tak cukup.
Entahlah, tapi aku hanya sedikit takut mengganggu.
Ribuan menit yang lalu sempat menjadikan kita pada sebuah pertemuan dengan celana dan rok biru.
Mengingat kisah masa lalu, mengenang waktu yang entah kapan dapat kita belenggu.
Aku berharap pertemanan ini bisa bergulir terus dengan bulir yang mengalir sampai hilir.
Walau bertatap muka agaknya sulit,
Alam telah menyiapkan gelombang elektromagnetik untukku mengucapkan selamat hari lahir padamu, Kawan!
Nanti, entah kapan, aku akan mengucapkannya sembari menjabat tanganmu.

*Selamat ulang tahun di akhir tanggal tujuh bulan ketiga ini kutulis untuk seorang teman yang namanya bisa kau baca di huruf pertama di setiap baris dengan ukuran yang besar, lalu dibaca ke bawah. Selamat ulang tahun, Hendri!

Minggu, 02 Maret 2014

Mon

: mon

Kasih, senja meleleh lagi melelahkan.
Aku lelah terlalu sering jatuh tanpa tahu bagaimana itu bangun.
Malam bergulir menuju kaki bukit.
Undakannya cukup tinggi, meski aku telah bangkit, rasanya masih selalu kurang sedikit.

Malam berpekat menyamarkan sekat, meski kusadar itu besar.
Oleh dia yang terpekur di kaki langit, aku mendongengkan kisah kita, meski tak seberapa.
Nanti pagi, kuharap ia akan bangun dan menyampaikannya padamu.
Salam dariku, bahwa aku merindu. Apa dia menyampaikannya?
Ilalang di halaman belakang sudah rindu kaujamah.
Esok ingin kunikmati bersamamu merebahkan pundak, meredakan amarah yang bergejolak.
Untuk yang kesekian kalinya, Kasih, aku rindu...
Rasa yang entah bagaimana, menyakitkan. Meski begitu, aku tetap ingin mendidiknya dengan jarak.

Kepada kamu yang tahu dirimu sendiri. Jika bertanya untuk siapa kumenuliskan rindu, ejalah setiap huruf depan dan baca ke bawah, Monsieur...

Sabtu, 01 Maret 2014

Aku Belum Terbiasa Tanpamu

Sepertinya aku butuh malam tambahan pagi ini. Tangis itu belum kering, aku masih butuh pekat untuk menyamarkannya. Pagi ini terlalu benderang, aku masih meradang.
Saat sinar Sang Mahaterang masuk, aku ingin segera mengirimkan pesan itu padamu.
Selamat pagi, Kasih.
Tapi kalimat itu menggantung.
Mengawang.
Terbang bersama kawanan burung Gereja pagi ini.
Maaf jika aku masih mendoakanmu pagi ini. Hanya doa sederhana, agar kamu tak lupa berdoa. Aku belum terbiasa tanpamu.
Di teras itu, kamu setiap akhir pekan, datang dengan sehelai handuk milikku yang pekan lalu kamu ambil dari pundakku, kemudian kamu baui, dan kamu bawa pulang.
Pagi ini aku terduduk dengan mata sembab di sudut sana, memandang jalan yang sepi. Kasih, ke mana kamu?
Aku tak tahu, aku tak ingat bagaimana mengingatnya. Wangi kopi itu masih membawaku padamu. Kopi dengan gula satu sendok teh kesukaanmu. Tapi saat tak ada pertemuan di hari itu, kamu lebih memilih cokelat panas atau teh.
Aku duduk sambil memandang kopi dan gula dicangkir. Wanginya begitu menyakitkan. Tak pernah tahu, ternyata kopi bisa semenyakitkan ini.
Hari ini belum berakhir, tapi rasanya aku sudah sangat lelah. Lelah menahan rasa sakit. Lelah merindukanmu, Kasih. Aku lelah masih terbiasa denganmu.
Matahari mulai menutup perjalanannya. Ia segera tiba di barat. Biasanya, kita duduk di atap jemuran rumahku ini. Menikmati kue bolu yang masih panas kesukaanmu, dengan secangkir teh hangat. Hanya memandang langit, mengagumi betapa hebatnya Tuhan, melihat apakah tanaman-tanamanku telah tumbuh dengan baik. Atau, membiarkan diam mengambil alih. Diam itu rasanya menyenangkan, hangat.
Tapi tidak kali ini.
Rasanya untuk sekadar memberi ruang pada sepi pun aku tak rela. Isak ini masih belum lelah menjajah, ia hadir lagi menemaniku menghantarkan Matahari pulang.
Kerutan kening itu, kamu masih ingat bagaimana aku begitu rajin memijatnya agar kerutan di keningmu itu pergi jauh-jauh. Sesekali, kamu terlelap. Entah di sofa, entah di karpet, terkadang juga di pahaku.
Katamu, tak ada bantal yang bisa memberikan mimpi indah selain bantalan pahaku.
Malam ini aku menangis lagi. Ingin sekali memaki mata ini, “Apakah semalam belum cukup?”
Aku lelah.
Aku ingin tidur.
Aku ingin bermimpi.
Aku ingin mulai terbiasa tanpamu.
Karena,

Aku masih belum terbiasa tanpamu...

Sabtu, 04 Januari 2014

Kita Pernah Senyata Savana

Malam itu pernah milik kita.
Pada kehidupan yang lain,
Malam memiliki kita.

Aku, begitupun kamu,
Tahu meski segalanya mungkin terulang,
Bisa diulang,
Namun maumu untuk berdiam tanpa mendulang.

Perlahan, derap itu mendekat.
Ketiadaan akhirnya mendekap.
Adakah kiranya kamu mampir?
Hanya untuk mengikis sedikit getir.

Meski segalanya tak lagi sama,
Meski yang dulu ada dan sekarang entah di mana.
Kumohon,
Jangan anggap aku fana
Karena kita, dulu pernah senyata savana.
Meski kini, kita kota berantakan setelah redanya bencana.

Minggu, 17 November 2013

enam belas

: shof

Pagi ini rasanya aku sedikit sibuk. Menghitung jumlah helainya, jumlah balonnya, jumlah doanya. Sudahkah enam belas? Sudahkah kuat terbang sampai kotamu? Akankah ia dihadang hujan, disambar petir, dikalahkan jarak?

Semoga saja tidak...

Aku tidak tahu, apakah kamu ingat, atau tidak. Apakah kamu memilih untuk ingat, atau lupa. Atau, apakah kamu memilih pergi, atau menetap, pada keping-keping ingatan itu.

Satu waktu di hari lalu, kamu pernah hadir pada kepingan itu...
Bahkan sampai saat ini.

Mungkin kita sempat sampai pada ujung tebing. Kamu memilih kembali, aku memilih terjun bebas. Tapi, tahukah kamu, aku tak jatuh, aku terbang, melayang, terus mengiringimu sambil menyusuri jalan kembali pulang ke masa lalumu...

Pernah ada waktu dan ruang yang mencakup kita sebagai satu kesatuan. Di sana, di ruang itu, pada waktu itu. Akhirnya ada matamu, ada kacamatmu, ada rahang kerasmu, ada suaramu.

Aku tak lupa. Tapi juga tak memilih untuk ingat. Entah, semuanya seperti melekat, merekat, erat, tak mau lepas.

Apakah balon-balon itu telah sampai? Ada enam belas. Tak perlu dua puluh, hanya enam belas. Karena aku tak lagi ingin mengeluh tentangmu, sebisa mungkin aku melepasmu. Karena katanya, melepas jauh lebih melegakan.

Enam belas balon, warna-warni. Sederhana saja, hanya sepatah selamat ulang tahun yang hendak kubahasakan.

Berdoalah. Biar aku yang amini panjang di setiap doa dan mimpimu.

Kelak, aku ingin sesekali tumbuh pada helai-helai rambutmu. Aku lelah rontok bahkan sebelum rambut itu sempat kamu sentuh.
Kelak, aku ingin duduk di sisimu, berteriak, tertular kamu yang bersorak, karena Barcelona menang telak.
Kelak, aku ingin kita sama-sama merasakan badai serotonin. Entah di mana. Di sini. Di sana. Atau di hari entah kapan di negeri antah berantah. Entahlah.

Selamat tanggal enam belas bulan sebelas.

Dari hari ke-sembilan di bulan sepuluh, 
kepada hari ke-enam belas di bulan sebelas.

Dari abjad terakhir dari belakang,
Kepada abjad ke-delapan dari belakang.

Selasa, 15 Oktober 2013

Aku Pernah Patah Hati

Aku pernah patah hati,
Pada jelaga batin itu,
Aku meringkuk semalam suntuk.
Berharap kamu datang dan menyelamatkan hati yang telah mati.

Aku pernah patah hati,
Di malam pekat tanpa bintang rekat,
Aku duduk pada atap,
Berdoa esok kita dapat kembali bicara tanpa gagap.

Aku pernah patah hati,
Bantal basah yang pagi ini dijemur Ibu,
Lumayan buatku malu.
Semoga esok tak lagi perlu menjemur.

Aku,
Pernah...
Patah hati.

Di sana,
Di atas kertas.
Dituliskan pena.
Aku tak lagi tahu caranya membenahi hati,
Selain menanti hari,
Menua,
Melebur kesakitan pada bendungan.

Kumohon, hati...
Jangan patah lagi...

"Dasar bodoh! Hatimu tak lagi patah, ia lebur, hancur. Esok tak lagi bisa lembur, jika hanya ingin mengubur pikir tentangnya!"

Selasa, 10 September 2013

Surat Pengagum

Adakah yang lebih menyedihkan selain mencinta pundak?
Adakah yang lebih menyedihkan selain mengirim surat anonim?
Adakah yang lebih menyedihkan selain menangisi kehampaan?
Ada...
Ketiganya dirasakan oleh satu hati.

Airmata itu tak lagi menggenang,
Ia jatuh berbulir-bulir,
Akhirnya membuat longsor tebing hati yang nelangsa.

Jemari itu tak henti menuliskan kata-kata cinta,
Demi melihat senyum tercantik,
Meski segalanya hanya terasa seperti embusan angin.

Hati itu tak lagi cinta,
Sudah jatuh berkeping.
Ia meratap,
Berharap kelak akan kembali rapat.

Tetapi, bukankah retak gelas tak lagi bisa disatukan seperti puzzle?
Berhentilah bermain...

Lihatlah aku,
Jemari ini akan segera memasuki adegan jatuh cinta,
Jangan tutup tirainya,
Karena aku ingin,
Kali ini melihat matamu.
Agar surat-surat itu mendapatkan keping teka-teki terakhirnya.


Pengagum yang tak tahu cara mengagumi yang baik