Halaman

Sabtu, 01 Juni 2013

Gulali

Warnanya cerah dan manis,
Dengar-dengar, rasanya hanya manis di pangkal lidah, kerongkongan kebagian pahit dan keruhnya.
Bentuknya lucu dan manis,
Katanya, mudah keras jika didiamkan, mudah kempis jika dikekang.
Permukaannya kasar dan lembut,
Kasar jika dipilih satu helai, lembut jika dibelai sayang.
Jika tak hati-hati, bisa menempel pada lengket biang gulanya.

Sembari menelan ludah, kupandangi kembang gula manis di tangan
Kuhela napas lemas, pahitnya menjalari kerongkongan sampai dada sesak
Kalau dibawa pulang, bisa-bisa sudah keras sampai rumah
Kalau dihabiskan, bisa-bisa aku muntah.

Kata Ibu, jangan banyak berpikir.
Jika ingin kulepas, maka lepaskanlah.
Jika belum rela, maka relakanlah.
Tak adakah tuntunan untuk tetap memegang gagangnya meski kembangnya kudiamkan diterpa angin?
Apa baiknya memang seperti itu?

Kupejamkan mata, kurentangkan tangan
Gulali kini berada pada tangan kananku
Biarkan alam yang ambil alih,
Biarkan alam yang bicara.
Kudengarkan, meski buatku tuli
Kurasakan, meski buatku mati
Kubiarkan, meski buatku sesak

Kubuka mata,
Dan semua telah terputar pada layar tancap besar di sana,
Kembang gula itu mengeras, sampai akhirnya jatuh dan terinjak-injak
Meski rasanya sakit, tapi setidaknya aku punya nyali.
Barang kali, gulali manis itu mesti kugantikan dengan obat pahit,
Agar paham, kebaikan itu hadir dari kepahitan.

Malam minggu sunyi, pada kamar penuh pikir tentangmu

Lampu Jalan

Malam datang!!
Tiang-tiang tinggi menjulang itu mempersiapkan diri,
Gelap yang menyerap kerap buat mereka gemerlap,
Meski hanya beri setitik sinar, tapi syukur masih buat orang berjalan benar.

Malang, jika ada dikata silau, jika mati dikata kacau.
Sayang, cahayanya hanya segaris, padahal ingin lihat senyumnya yang berbaris.
Bayang, yang ia ciptakan malah satu-satunya teman bagi yang ia rindukan.

Tapi tak apa, asal kasihnya bersinar tak hampa.
Kini matahari kembali, mereka berkemas pergi.
Hanya sekilas kedip, salam perpisahan untuk malam nanti bersinar lagi.


Siang terang, pada tiang lampu nakal yang masih benderang

Jumat, 31 Mei 2013

Pasar (Sampai) Malam

Malam bersiap merapihkan diri, berharap ceria siang tadi masih meninggalkan bekas pada titik-titik jalan.

Tenda-tenda terpal masih tegak berdiri di pinggir jalan, jual-beli pagi tadi tampaknya masih bugar hingga gelap,
Lampu-lampu kecil berpendar kuning menyilaukan mulai dinyalakan, tanda kegiatan mereka masih akan panjang,
Barang-barang di atas meja penyambung hidup mereka mulai kembali penuh, semoga segera habis.

Kata orang, ada benda besar berputar yang bisa bawa kita lebih dekat dengan langit, namanya kumidi putar.
Kata orang, ada kembang gula warna merah muda yang kempes ketika sampai di mulut, namanya gulali.
Kata orang, ada tawa renyah yang lahir di sana dari dua tatap yang malu-malu, namanya jatuh cinta.

Tapi, aku sepertinya tersesat,
Di sini bau tengik, meski kerja keras mereka begitu mewangi,
Keringat lengket menempel di sana sini, walau kutahu peluh bukti kehidupan terus mengalir,
Meski di sini tak ada tawa renyah jatuh cinta, di sini tetap ada tatap syukur atas kehidupan.

Kata orang lagi, ada bangku kayu yang bergoyang ke depan dan ke belakang tempat tawa renyah jatuh cinta itu berayun, namanya ayunan.
Di pasar yang sampai malam ini, tak kutemukan semua yang orang bilang.
Hanya sebangku kecil tanpa pengayun, cukup untuk adegan jatuh cinta pada panggung terakhir,
Bukan lagi perkara bau tengik, kumidi putar, keringat lengket, ataupun gulali,
Kini,
Yang kucari hanya kamu,
Yang tak pernah kudengar dari orang,

Meski hati terus berjingkat-jingkat layaknya anak kecil yang memasuki gerbang pasar malam.

Malam ramai gemuruh, pada sisi pasar yang rusuh

Sabtu, 25 Mei 2013

Datanglah, Temui Orangtuaku



Yudhistira: *berbalik tergesah*
Yudhistira: Dik, kamu betul-betul tidak mau pacaran?
Samiya        : Duh, ini nih bagaimana? Ideku, jangan lampion...
Yudhistira: Dik...kamu betulan? 2013....
Samiya: Mas...sudahlah. Kita selesaikan ini dulu saja.
Yudhistira: Aduh apa sih...iya jangan lampion karena bisa mencemari lingkungan iya? Mau pakai apa? Burung saja? Deal!
Samiya: Mas...ih...kenapa sih, kamu selalu tahu...
Yudhistira: Samiya, kamu betul-betul tidak mau pacaran?
Samiya: Mas, kamu tahu Riani dan Genta di 5 Cm?
Yudhistira: ....iya tahu, terus?
Samiya: Kok aku seperti melihat mereka hidup dalam kita ya...
Yudhistira: Terus nanti kamu gimana menikahnya?
Samiya: Tapi sayang ya...mereka gak berakhir bersama...
Yudhistira: Ya kita bikin mereka berakhir bersama dong...
Samiya: Sembarangan! Itu cerita punya Donny Dhirgantoro ‘e
Yudhistira: Ya kita buat cerita kita sendiri, Yudhis dan Samiya...
Samiya: Mas Yudhistira, bisa kah kamu bertindak sebijak namamu?
Yudhistira: Kenapa kamu tidak mau pacaran, Samiya?
Samiya: Pacaran itu banyak mudoratnya, Mas
Yudhistira: Misalnya? 
Samiya: Peluk cium....
Yudhistira: Samiya, peluk cium itu yang bukan orang pacaran juga bisa berbuat.
Samiya: Kamu kelewat bijak
Yudhistira: Aku suka kamu panggil aku seperti tadi
Samiya: ....
Yudhistira: Jadi? Mau pacaran denganku?
Samiya: Jika siap, datanglah ke rumah. Mintaku pada kedua orang tuaku...
Yudhistira: Kamu yakin?
Samiya: Mas, rasa ini semata-mata milik Allah, aku kembalikan kepada-Nya. Jika ini bukan jalan kita, maka tak ada kepatahan yang harus kurasakan
Yudhistira: Besok, aku bersama Romo dan Ibu, ke rumah.

Menetaplah


Tatapan itu...
Kau...
Tatapanmu...
Menembus segalanya...

Keriuhan ruang mati,
Detak detik sekarat,
Hanya kita dan tatapan kita,
Mengikat erat udara.

Jangan, kumohon jangan bergerak,
Kumohon tetap di sana, pada tatapan itu,
Aku ingin tenggelam lebih dalam,
Aku rela mati di sana.

Kata orang, cinta tatapan pertama itu pepesan kosong,
Tapi bagaimana jika tatapan ini begitu tajam, kejam, dan merejam,
Memaksaku merunduk, jatuh hati tertunduk

Aku,
Ingin hidup lebih lama pada tatapan itu,
Aku,
Ingin tatapan itu juga hidup seribu tahun,
Aku,
Ingin kita, hidup, di sini, di tatapan kita...

Tepat tujuh hari merindukan tatapan pada seberang ruang, hati yang merindu pada bis kota sesak

Sabtu, 27 April 2013

Taman Kota

Deru kota semakin menggebu,
Seakan memburu sesuatu padahal hanya abu.
Berisik kota terpusat pada pusaran ramai di sana,
Gemerisik hujan sekali-kali bergubah di pusaran fana.

Langkah-langkah kaki manusia memegahkan tiap-tiap gugah yang membuncah dari dalam dada,
Langkah gontai seakan merantai tiap kaki pada bangku-bangku taman,
Mereka, melangkah bagai telah tertakdirkan.

Gemerlap malam seakan tak pernah mati di sana,
Gelagap hujan seakan selalu derai di sana,
Gempita matahari terus mengeringkan dedauan hingga gugur,
Di sana, miniatur kehidupan itu berputar,
Di taman kota.

Beranda

Kini meja itu kosong, halaman itu melempem. Hanya jejak-jejak tawa dan senyum yang belum sempat dibersihkan masih tertinggal. Bahkan ini berarti begitu besar bagi mereka. Tawa yang dulu mereka rajut bersama, menghangatkan kala perang dingin melanda.

Mata itu masih basah, jemarinya semakin keriput kedinginan diterjang banjir dari kedua mata indahnya sendiri, tapi hatinya masih belum bisa tenang. Segalanya seakan berjalan terlalu cepat, kehidupan memiliki kaki dengan tahi lalat di mana-mana, sementara untuk sekadar menyamakan langkah saja, hatinya masih terlalu berat. Langkahnya masih tertahan. Pada beranda tua di rumah tua, yang membungkus kisah muda mereka dan menyimpannya pada masa tua. Kini, ia menghadapi masa tua itu sendirian di beranda.

Dengan nafas tersengal, ia mencoba menata kenangan mereka satu per satu. Buku-buku berdebu, tawa-tawa usang, pelukan-pelukan lusuh, tatapan-tatapan yang telah lama sekali tak mereka rayakan dengan saling pelukan dan mengucap kehangatan dengan kecup.

Matanya kini hanya lebih sering menatap kekosongan. Kursi yang kosong, sisi ayunan yang kosong.
Jemarinya kini lebih sering menggenggam kehampaan. Sampai akhirnya memilih menangkupkan telapaknya ke wajah.
Hatinya,
Hatinya kini hanya lebih sering merindu. Merindu kehadiran seseorang pada kehidupan yang menyajikan ketiadaan baginya.
Hatinya kini hanya lebih sering meratap. Meratap nasibnya sendiri, yang kini hanya menetap.
Hatinya kini hanya lebih sering memeluk. Memeluk kata-kata yang tak berhasil ia ucap dan kini terbahasakan dengan airmata.

Matahari sudah pergi dari pelukan perut bumi,
Daun telah menemui ujung kehidupannya pada ujung ranting-ranting,
Jejak itu masih rapih, kenangan mereka menjaganya agar tak terhapuskan,
Tubuh itu meringkuk kedinginan, lengannya memeluk kedua kaki dengan penuh kepedihan,
Sinar matahari menusuk rusuk-rusuk belakangnya, menyadari seseorang telah tinggal cukup lama pada salah satu bagiannya,
Aku, hanya bisa memandang, merasa, dan kaku,
Akulah kehampaan itu.