Halaman

Sabtu, 25 Mei 2013

Menetaplah


Tatapan itu...
Kau...
Tatapanmu...
Menembus segalanya...

Keriuhan ruang mati,
Detak detik sekarat,
Hanya kita dan tatapan kita,
Mengikat erat udara.

Jangan, kumohon jangan bergerak,
Kumohon tetap di sana, pada tatapan itu,
Aku ingin tenggelam lebih dalam,
Aku rela mati di sana.

Kata orang, cinta tatapan pertama itu pepesan kosong,
Tapi bagaimana jika tatapan ini begitu tajam, kejam, dan merejam,
Memaksaku merunduk, jatuh hati tertunduk

Aku,
Ingin hidup lebih lama pada tatapan itu,
Aku,
Ingin tatapan itu juga hidup seribu tahun,
Aku,
Ingin kita, hidup, di sini, di tatapan kita...

Tepat tujuh hari merindukan tatapan pada seberang ruang, hati yang merindu pada bis kota sesak

Sabtu, 27 April 2013

Taman Kota

Deru kota semakin menggebu,
Seakan memburu sesuatu padahal hanya abu.
Berisik kota terpusat pada pusaran ramai di sana,
Gemerisik hujan sekali-kali bergubah di pusaran fana.

Langkah-langkah kaki manusia memegahkan tiap-tiap gugah yang membuncah dari dalam dada,
Langkah gontai seakan merantai tiap kaki pada bangku-bangku taman,
Mereka, melangkah bagai telah tertakdirkan.

Gemerlap malam seakan tak pernah mati di sana,
Gelagap hujan seakan selalu derai di sana,
Gempita matahari terus mengeringkan dedauan hingga gugur,
Di sana, miniatur kehidupan itu berputar,
Di taman kota.

Beranda

Kini meja itu kosong, halaman itu melempem. Hanya jejak-jejak tawa dan senyum yang belum sempat dibersihkan masih tertinggal. Bahkan ini berarti begitu besar bagi mereka. Tawa yang dulu mereka rajut bersama, menghangatkan kala perang dingin melanda.

Mata itu masih basah, jemarinya semakin keriput kedinginan diterjang banjir dari kedua mata indahnya sendiri, tapi hatinya masih belum bisa tenang. Segalanya seakan berjalan terlalu cepat, kehidupan memiliki kaki dengan tahi lalat di mana-mana, sementara untuk sekadar menyamakan langkah saja, hatinya masih terlalu berat. Langkahnya masih tertahan. Pada beranda tua di rumah tua, yang membungkus kisah muda mereka dan menyimpannya pada masa tua. Kini, ia menghadapi masa tua itu sendirian di beranda.

Dengan nafas tersengal, ia mencoba menata kenangan mereka satu per satu. Buku-buku berdebu, tawa-tawa usang, pelukan-pelukan lusuh, tatapan-tatapan yang telah lama sekali tak mereka rayakan dengan saling pelukan dan mengucap kehangatan dengan kecup.

Matanya kini hanya lebih sering menatap kekosongan. Kursi yang kosong, sisi ayunan yang kosong.
Jemarinya kini lebih sering menggenggam kehampaan. Sampai akhirnya memilih menangkupkan telapaknya ke wajah.
Hatinya,
Hatinya kini hanya lebih sering merindu. Merindu kehadiran seseorang pada kehidupan yang menyajikan ketiadaan baginya.
Hatinya kini hanya lebih sering meratap. Meratap nasibnya sendiri, yang kini hanya menetap.
Hatinya kini hanya lebih sering memeluk. Memeluk kata-kata yang tak berhasil ia ucap dan kini terbahasakan dengan airmata.

Matahari sudah pergi dari pelukan perut bumi,
Daun telah menemui ujung kehidupannya pada ujung ranting-ranting,
Jejak itu masih rapih, kenangan mereka menjaganya agar tak terhapuskan,
Tubuh itu meringkuk kedinginan, lengannya memeluk kedua kaki dengan penuh kepedihan,
Sinar matahari menusuk rusuk-rusuk belakangnya, menyadari seseorang telah tinggal cukup lama pada salah satu bagiannya,
Aku, hanya bisa memandang, merasa, dan kaku,
Akulah kehampaan itu.

Selasa, 15 Januari 2013

Hujan Gengsi



Suara geluduk mengiringi pasukan kematian mengawal awan yang akan segera dikubur hidup-hidup di tanah.
Kerasnya angin menggertak lonceng,
Desiran angin merapatkan mantel,
Ayunan palu angin memukul kalah dedauanan yang mati duluan mendahului hujan.

Gelegar geluduk kembali datang. Kali ini dahsyatnya buat awan berkeringat ketakutan. Kaca-kaca yang kokoh pada tiang pancang bumi pun turut meringis tanda kesakitan. Dua insane yang saling bunuh dalam diam pun terpaksa angkat senjata lewat mata.

Tiba waktunya, air langit dihajar sampai kalah dan akhirnya mati. Kematiannya dirayakan tanaman sampai tumbuh subur.

Hujan ini berisik. Tetapi kalah berisiknya dengan gemericik hati dua manusia gengsi. Di dalam hati keduanya, gengsi dan rindu saling hantam. Tetapi sayang, gengsi terlalu sangar bagi rindu. Rindu pun ikut mati, di tanah hati yang ditumbuhi melati.

Suhu dingin menusuk kulit masing-masing dan memaksa mereka saling lihat tanda masih saling pahat. Rindu bangkit. Melati pada hati mereka tumbuh subur. Geletar sesal membahana keras pada gua hati. Tetapi gemetar maaf akhirnya terucap.

Keduanya saling peluk. Mungkin gengsi sudah dibekuk.
Tak ada lagi nyanyian kematian besera iring-iringannya,
Kini yang tinggal hanyalah wangi tanah, yang menguap masuk pada hati dua rindu yang masih saling genggam. Dengan gengsi yang menatap geram.

Aku Kepadamu



Mataku, masih menjadi lensa terbaik yang menangkap dirimu dalam keadaan sekacau apapun.
Kepalaku, masih menjadi tempat terbaikmu menetap tanpa kenal lelap.

Jemariku, masih menjadi pelukan hangat yang rajin mendekap kosong ketimbang jemarimu yang menggigil.
Hatiku, relung yang lebih sering mengecap kepahitan ketimbang mengucap rindu padamu dengan kecup.

Sebagian diriku yang sempat bersinggungan denganmu…

Dinding,
Punggung yang kau balas punggung, kau pukuli kala resah. Mata yang gemar kau pandangi kala gundah. Serta telinga yang kau kisahkan segala kenangan tentang kesakitan, masa lalu, airmata, dan mimpi.

Kanvas,
Hati yang kau torehkan penuh kasih, bahagia, dan kisah. Hati yang kau sulap menjadi taman bunga, langit senja, balon-balon ajaib, bahkan pemakaman. Hati yang kau gulung ketika kekecewaan yang kau dapati.

Dan, kini aku menyulap diriku sebagai sepatu belelmu. Yang meski seberapapun banyaknya sepatu baru nan mentereng yang kau dapatkan, aku tetap menjadi pilihan pertama dan terakhirmu untuk melangkah ke mana pun, sejauh apa pun, dan selelah apa pun.

Malam



Gulita membelitku bagai gurita. Langkah-langkah gontai menjejaki malam yang makin terbantai. Sengal napasku terdengar bak senapan angin. Jantungku berdebam kencang, jatuh pada lantai kehidupan. Malam yang masih muda, merias diri dengan bulan dan bintang yang menor.

Kenangan masih asik berdiam diri pada saung pikiran, mengusik. Sepertinya, semilir angin kesakitan bagao napas kelegaan bagi mereka. Tidur tengkurap, gelinding kanan, gelinding kiri, tidur menghadap langit. Kenangan begitu pandai mempermainkan pelataran hati.

Malam ini agaknya masih panjang, melucuti gengsi agar kenangan asik telanjang.
Kemudian, tanpa sadar, pembekuk airmataku kalah. Aliran airmata yang cukup deras ini tak mampu lagi ditahan jalah.

Pasukan Payung



Kaki-kaki kecil itu mulai berkecipak tanpa alas kaki di genangan air akibat hujan. Kelincahan mereka memekik air yang tenang menggenang. Langkah ricuh mereka ke sana, kemari dengan wajah kepayahan yang basah dihajar pasukan awan.

Tetapi semangat mereka terus menyala dan membakar kendaraan payung yang membawa orang-orang menembus peperangan hujan. Memang tak cukup hangat untuk jiwa yang menggigil. Pun tak cukup teduh bagi jiwa yang merindu. Tetapi cukup melindungi bagi jiwa yang ketakutan.

Pasukan anak-anak payung tak hentinya menawarkan jasa peneduhan bagi orang lain. Padahal jelas-jelas merekalah yang paling butuh perlindungan. Merekalah, yang paling butuh diselamatkan.

Rambut kering terbakar matahari,

Kulit kering terbakar matahari,

Tetapi semangat yang bersenandung riang pada langkah-langkah ringan mereka membakar nasib buruk sampai hangus kemudian mengabu,

“Hujan ini rezeki,” kata mereka seraya berlari dan melebarkan payung dengan bibir tersenyum penuh syukur dan harap.