Halaman

Selasa, 17 Januari 2012

Sahabat Baruku


Dear Lulu ( (at)lululf )…
Halo Teteh. Halo Miss ngomel! Halo Tetehnya Azka, Sanny, Alwan, dan Nica. Halo Teteh!
Lu…
Kesan pertama saat gue kenal lo adalah, “Wiiii kayaknya anak gaul nih.” Terus gue negur elo, eeeeeh dicuekin Mak! Oke gue berhenti di situ dan berpikir, “Anak barunya sombong, Mamah :”(“ Dan…..jengjeng…..*drumroll* ternyata lo ujung-ujungnya main sama gue, Sheila, dan Sinta. Voila!
Detik beranjak jadi menit, menit tumbuh jadi jam, lalu jam berkumpul menjadi hari. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulanpun kembali berganti, dan kita semakin akrab. Gue makin ngerasa kayak ada magnet di antara kita Lu, tarik menarik. *azek*
Lo itu salah satu sahabat terbaik yang gue punya. Punya pikiran sama, apa yang lagi gue pikirin pasti langsung kesambung sama lo. Apa yang gue mau, pasti langsung lo paham. Lama-lama lo jadi kayak belahan jiwa gue Lu. *asek*
Lulu…
Lo tau gak gimana gue hafal cara jalan lo? Gimana gue hafal cara ngomel lo? Gimana gue hafal apa yang paling bisa bikin lo ngomel-ngomel kayak emak-emak warung yang kesel diutangin mulu. Gue juga tau gimana cintanya elo sama Ibu lo, sama Oma, dan sama gue pastinya sih. *ehem* *kibas kerudung* *kepleset* *gagal keren*
Selama kaki gue berpijak di bumi keren ini, baru kali ini dapet sahabat sekompak lo. Sempat beberapa kali terbersit gimana kalo gue gak kuliah di Al Azhar, gimana kalo gue gak masuk Psikologi, gimana kalo gue sekarang gak tinggal di belahan bumi ini, tapi jauh membeku di Kutub. Pasti gue gak ketemu sama yang namanya Lulu Luthfia Fadhillah.
Lulu…
Makasih ya selama kita bertegur sapa, selama kita bertukar tawa, selama kita saling peluk, dan selama gue pake gelar “Sahabat” untuk lo, lo selalu nerima gue jadi orang di sisi lo. Lo nerima gue jadi orang yang dapet kehormatan khusus dengerin keluh kesah lo, omelan-omelan kecil lo, dan bisa bikin lo ketawa. Makasih yaaa….
Makasih udah banyak ngasih pelajaran ke gue. Gimana harus lebih ngikutin hati daripada tren, gimana harus mencintai Ibu, dan gimana sayang sama seseorang yang biasa dipanggil Sahabat. Gue kagum gimana sayangnya lo sama sahabat-sahabat lo, gimana mudahnya lo memaafkan orang-orang yang salah sama lo, dan gimana lo sayangnya sama Ibu lo. Gue kagum, Lu.
Lulu…
Apa pernah terbersit betapa gue sayangnya sama lo? Apa pernah terbersit betapa gue takut banget kehilangan lo? Apa pernah terbersit betapa gue takutnya bikin lo marah? Sering banget Lu. Sering banget gue takut kehilangan lo sebagai sahabat gue. Sering banget gue takut bikin lo marah sama gue.
Apa lo tau betapa senengnya gue setiap lo ketawa karena ucapan gue? Apa lo tau betapa senengnya gue setiap denger pujian lo? Apa lo tau betapa gue senengnya lo sebut sahabat? Banget Lu! Gue gak punya kata-kata yang pas selain, Makasih banyak ya Teteh Lulu.
Lulu….
Gue memang cuma seonggok daging yang dipenuhi mimpi—selain lemak sih—dan mimpi dan mimpi. Harapan,harapan, dan harapan. Gue cuma seorang teman yang bermimpi jadi sahabat seseorang sampai tiba waktu gue kembali. Gue cuma seorang perempuan yang punya banyak airmata dan tawa.
Gue hanya minta untuk lo tetap jadi sahabat gue ya Lu. Jadi orang yang selalu bisa dengerin cerita gue, meski mungkin gue luput dari kebisaan gue akan itu terhadap lo. Jadi orang yang selalu ngapus butiran airmata, meski terkadang bahkan gue gak mau melihat lo nangis. Dan jadi orang yang bisa selalu ada di sisi gue, meski gue hanya bisa ada di belakang lo.
Lulu…
Jika kelak gue lupa akan kehadiran lo dikehidupan gue, tarik gue, omelin gue, ingetin gue, “Nis, lo punya gue!”
Jika kelak gue tertawa sendiri tanpa kehadiran lo, jangan sungkan untuk bilang, “Lo gak inget biasa ketawa sampe nangis sama siapa dulu?”
Jika kelak gue hanya menjadi seonggok daging yang kemudian tua, renta, dan tak bertenaga, dekati gue, genggam tangan gue, dan bilang, “Lo masih sahabat gue Nis.”
Lulu…
Disaat dunia mulai diam untuk lo, inget gue ya, gue bakal jadi yang paling berisik untuk lo.
Disaat dunia tutup mata untuk lo, inget gue ya, gue gak akan sedikitpun mengedipkan mata untuk lo.
Dan disaat dunia mulai menolak lo, inget gue ya, gue akan selalu meluk lo, membiarkan lo tertawa, menangis, dan berkisah di bahu gue.

Tertanda,
Annisa Fitrianda Putri
Sahabat gendut lo yang selalu takut mati ngakak dan gak bisa berhenti ngakak sama lo.
Salam peluk, cium, sayang, dan cinta gue, Lulu Luthfia Fadhillah.


#HariKelima

Senin, 16 Januari 2012

Halo Kawahluka


Dear Adimas Immanuel…
Halo Kak Dim!!! Halo kawahluka!!!
Dari sekian banyak akun twitter keren, akun twittermu yang pertama kali membuatku jatuh cinta! Sungguh loh! Aku suka caramu merangkai kata-kata menjadi sebuah rima. Membuayku merinding hebat setiap membacanya. Aku suka semua tulisanmu, pada blog ataupun twitter.
Belakangan aku tahu Kak Dim kuliah ekonomi kan? Bukan sastra? Dan kemudian belakangan juga aku tahu, Ayahmu adalah seorang pemain kata juga, betul? Pantas saja, pikirku. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya.
Aku juga sering cengar-cengir setiap membaca tweetmu yang disinyalir mau bikin banyak orang nyinyir. Aku enggak loh! *asek* Aku sering kagum atas semua permainan katamu. Bagaimana kamu merangkai kata menjadi sebuah rima! Tidak habis pikir!
Kak Dim…
Aku sangat suka tulisan suratmu untuk Kak Loli. Bagaimana semua dimulai, bagian tengah, lalu ditutup dengan sangat menyentuh. Aku sesaat sangat ingin bisa menyelami pikiranmu dan menemukan apa saja yang ada di otak seorang anak ekonomi tentang sastra.
Aku duduk mematung saat membaca puisimu untuk seorang temanmu yang telah kembali pada Yang Maha Kuasa. Aku berdecak kagum. Aku ingin sekali saat satu hari nanti aku pergi, ada yang menuliskan puisi seindah itu untukku. Memang bukan untukku baca, setidaknya ada yang masih ingat bahwa tubuh ini pernah menapaki bumi bulat ini.
Lantas beranjak pada surat untuk Ayahmu. Merinding, tak dapat berkata, dan kusadari ada setitik bening menggum[al pada kedua ujung mataku. Kedua orangtuaku telah berpisah sejak lama, tapi tenang, aku tidak lantas membenci Ayahku. Hanya saja cintamu untuk Ayahmu masih jauh lebih besar disbanding milikku.
Aku suka kalimat yang satu ini,
Memang, akhir-akhir ini kita jarang bertukar cerita, tapi aku tahu, di dalam hatimu, kau tetap mendoakanku seperti biasa, dan seperti kau tahu, aku tetap membanggakanmu tanpa jeda.”
Yang satu ini juga,
Terakhir namun terpenting, tetap sayangi ibu seperti biasa sampai kapanpun, setegas sumpah yang kau ucap di hari pernikahanmu.”
Dan yang satu ini,
“Tiup lilin harapanmu, dan biar Tuhan yang mengabulkannya melalui hidupku.”
Setiap kali membaca tweet dan blogmu, aku seperti sedang mendengarkan lagu All I Am dari Heatwave, rasanya ingin berlari memutari bumi, lalu memeluknya, dan kembali berlari. Ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
Kak Dim…
Aku juga suka sekali bagaimana kamu membahas Pinkan Mambo *ups!* Nikita Willy *ups!*
Kak Dim…
Terimakasih telah berbagi lewat tulisanmu. Terimakasih telah membalas beberapa tweetku yang berakhir pada tab @nisfp’s favorite. Terimakasih telah memberi pelajaran-pelajar yang kecil, namun menyentak.
Dan, Kak Dim…
Terimakasih telah memberikanku pelajaran untuk bagaimana memandang satu masalah dari sisi yang lain, dari cara pandang yang lebih baik. Terimakasih Kak Adimas Immanuel.
“I say something, then we’re still nothing. I play with the rain, You’d rather play the words.”

Tertanda,
Annisa Fitrianda Putri,
Penikmat kalimatmu, kesedihan, kebahagiaan, dan pelajaran pada setiap tulisanmu.
Salam Kawahlukadotblogspot! :p

Catatan kaki: Ada kiranya kau baca, resapi, dan....yukk temenan! *ditendang*
#HariKeempat

Minggu, 15 Januari 2012

Surat Harum


Dear Harum Aspari Ningrum
Halo Harum! Apakabarmu di Paramadina? Aku rindu loh!
Harum….
Ingat pertama kali kita ketemu dan akhirnya kenalan?
Ingat pertama kali kita ngobrol?
Ingat pertama kali kita tertawa bersama?
Aku lupa! Tapi aku rindu!
Harum….
Aku bingung mau bilang apa. Kamu itu sosok sahabat terbaikku selama aku berpijak pada bumi nan kumal ini. Kamu salah satu sosok idolaku selama mata ini menatap silau sang Matahari. Dan kamu masih tetap sosok sederhana yang tetap terlihat wah di mataku selama aku masih mengirup oksigen pada setiap detiknya.
Apa kamu tau betapa seringnya aku berucap, “Wah kesukaan Harum nih!” setiap kali melihat ketimun dan tomat? Aku tau kamu itu suka kalau sahabatmu ingat apa makanan kesukaanmu, makanya aku berusaha mengingatnya. Tapi entah kenapa, cuma ketimun dan tomat yang melekat padamu. Ramen dan dim sum juga. Iya kan?!
Harum….
Aku mau minta maaf. Maaf karena aku sering mengajakmu bergosip! Maaf karena aku sudah mulai sibuk dan jarang sekali ada untukmu, walau mungkin bukan hal besar jikapun aku ada untukmu pada masa airmatamu. Maaf karena aku tidak punya bahu yang baik untuk menopangmu. Maaf karena aku banyak cemburu pada sahabatmu yang lain, Rum.
Harum….
Terimakasih ya. Terimakasih telah mau bersahabat baik dengan orang macam ini. Terimakasih telah menjadi sahabat bercerita, berbagi, dan mengerti akan semua yang pernah kualami. Terimakasih setiap kata hangat yang kamu ucap disaat terdinginku. Dan terimakasih telah menjadi sosok yang apa adanya, sederhana, tapi sangat wah, aku belajar banyak darimu.
Masih ingat kalimat ini,
“Yaudah sih Nis, lo gak makan dari dia ini.”
Terimakasih juga untuk yang satu itu.
Aku senang saat kamu menganggapku selalu ada untukmu, dan ibu perimu saat itu,
“Ibu peri mana nih ibu peri.”
Harum….
Maaf jika aku terlalu sering ikut campur urusan airmatamu. Maaf jika aku banyak menanyakan hal yang membuatmu sedih. Itu semua hanya karena aku terlalu sayang padamu.
Kini….
Maukah kamu tetap jadi sahabat terbaikku? Maukah kamu tetap menjadi sahabat berbagi, bercerita, dan mengerti bersamaku? Dan maukah kamu tetap berjalan bersamaku saat dunia mulai mendiamkanku?
Dan kelak…
Kuharap kita bisa menua bersama. Membagi cerita tawa dan airmata bersama. Bercerita pengalaman pertama hamil, melahirkan, sampai bagaimana menanggapi cerita persahabatan anak-anak kita kelak. Bercerita bagaimana rasanya mulai ditumbuhi rambut putih. Kuharap kita bisa tetap saling menyapa, bercerita, tertawa, dan membantu disaat semua itu sudah terdengar usang termakan waktu.


Tertanda,
Annisa Fitrianda Putri
Sahabatmu yang kerap kali menjadi pengagummu.
Salam rindu, peluk, cium, sayang, dan cintaku, Rum.

#HariKetiga

Halo Eyang Kakung

Dear Eyang Kakung….
Halo Eyang, apa kabarmu di sana?
Apa kau rindu padaku? Sudah pasti kau lebih merindukan Eyang Putri dan Mamah, ketimbang cucumu yang cengeng ini.
Ingat kapan terakhir kali kita bertatapan?
Ingat kapan terakhir kali kita bersentuhan?
Ingat kapan terakhir kali kita saling peluk?
Aku lupa, tapi masih sangat lekat bagaimana rasanya, dan aku rindu…
Apa Eyang ingat kapan pertama kali memanggil namaku?
Apa Eyang ingat kapan pertama kali menggendongku dan mendiamkanku dari tangisan?
Apa Eyang ingat kapan pertama kali menciumku dan mengaliriku dengan kasih sayang?
Aku lupa, tapi aku rindu…
Aku rindu semua tentangmu Eyang, kita tepatnya…
Aku rindu saat betapa seringnya aku bersandar pada dadamu kemudia tertidur…
Aku rindu saat sering kali kita bergurau…
Aku bukan cucu yang baik, aku bukan cucu yang menurut…
Aku hanya terlalu sayang padamu, lantas menjadi ekormu…
Melalui surat ini, aku hanya ingin menyampaikan bahwa betapa menyesalnya aku saat melewati semua masa sulitmu, Eyang…
Aku hanya ingin kau tahu bahwa betapa sangat menyesalnya aku selalu jalan terburu di depanmu hanya karena tak sabar akan langkahmu yang mulai menua…
Aku hanya ingin kau tahu bahwa betapa sangat menyesalnya aku yang selalu menghindari ciumanmu…
Sangat klise, aku hanya ingin semuanya kembali pada dekapan hangat kita, Eyang…
Aku ingin kembali saat aku menggantikan posisi kita, aku yang mendekapmu hangat lalu menciummu…
Aku ingin kembali menghirup wangimu pada pelukan kita, Eyang…
Aku rindu semua gerakanmu, bagaimana engkau berdoa, tidur, memakai baju…aku hafal…
Melalui surat ini, aku harap kau tahu betapa aku sangat merindumu…
Betapa aku sangat sayang, dan jatuh hati padamu, Eyang…
Aku yakin, pasti kita akan bertemu kembali, kalau sempat, beritahu aku kau ada pada nomor urut berapa ya, Eyang…
Agar saat tiba waktuku kembali dan berada satu tempat denganmu, aku bisa menerobos barisan, berlari ke arahmu, dan kembali mendekapmu…
Mencium pipimu…
Dan menghirup wangimu, Eyang…
Aku juga ingin sampaikan bahwa betapa Eyang Putri sangat rindu padamu, Eyang…
Eyang Putri kesepian, aku berusaha menemaninya, tapi engkau masih yang terbaik untuknya, Eyang…
Mamah, hampir setiap malam, Mamah memikirkanmu, merindukanmu…
Eyang, kami semua rindu padamu….
Eyang, satu hal lagi, aku juga sangat bangga mengaliri darahmu pada tubuhku…


Tertanda,
Annisa Fitrianda Putri
Cucumu yang selalu memasang seribu langkah di atas langkahmu yang mulai menua…
Salam peluk, cium, sayang, dan cintaku, Eyang Kakung….


Jumat, 13 Januari 2012

Surat Cintaku Untuk Mamah ♥♥♥


Dear Mamah…
Aku, gadis kecilmu yang kini sudah menopang masa depan untuk menjadi Sarjana Psikologi…
Aku, gadis nakalmu yang kini sudah mulai belajar menjadi pendengar yang baik sepertimu…
Aku, gadis cengengmu yang kini lebih memilih tersenyum dalam tangisnya…
Hanya mau bilang betapa aku sangat mengagumimu, Mah…
Mamah….
Aku yang sering kali jengkel akan teguranmu..
Aku yang kerapkali berucap “Ah!” padamu…
Aku yang tak jarang menggampangkan ucapanmu…
Hanya mau bilang, mungkin belum bisa menyesalinya, aku hanya ingin mengobati lubang kecil di hatimu akibat perbuatanku…
Mamah….
Aku yang sering kali buang muka saat mengucap, “I love you, Mah…”
Aku yang selalu mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Mah” dengan wajah entah kemana…
Aku yang sering tak peduli akan tanggal 22 Desember…
Hanya ingin bilang, bahwa betapa aku takut memuntahkan airmataku saat melakukan itu semua…
Mungkin aku bukan anak idaman semua ibu-ibu di dunia…
Mungkin aku bukan anak yang rajin belajar seperti Kakakku…
Mungkin aku juga bukan anak yang perhatian….
Tapi aku yakin seratus ribu persen, aku adalah anak nomor satu yang akan pasang badan saat engkau tersakiti…
Aku akan selalu menjadi fans beratmu, Mah...
Maafkan aku jika kelak aku letih akan pertanyaan dan ceritamu yang itu-itu saja, seperti aku belasan tahun silam…

Melalui surat cinta ini, aku hanya ingin kau tahu Mah…
Seberapa jauh aku melangkahkan kaki keluar rumah…
Hanya kau tempat yang kuingin kembali, memeluk, mencium, dan bernafas…
Seberapa banyak aku mengalihkan pandangan darimu demi menyembunyikan kesal ataupun airmataku…
Hanya kau yang ingin selalu kupandang terakhir dimalam dan pertama dipagi hari…
Dan…
Seberapa banyak hari spesial untukmu yang terlewatkan olehku…
Ingatlah Mah, kau hanya terlalu spesial untuk melihat betapa cengengnya gadismu ini…

Tertanda…
Annisa Fitrianda Putri…
Gadis kecilmu yang sedang tumbuh namun tetap ingin memiliki pelukan, ciuman, dan perhatianmu sepenuhnya…
Salam peluk, cium, sayang, dan cintaku, Mah…


#HariPertama

Selasa, 10 Januari 2012

Emansipasi? Hmm....

Emansipasi? Apaan sih tuh? Kedengerannya gak gitu keren. Masih kerenan Annisa Fitrianda Putri sih *sigh* Kata kebanyakan wanita, emansipasi itu adalah penyamarataan derajat wanita dan laki-laki. Jadi untuk kebanyakan wanita tersebut, awalnya mereka gak sederajat dengan laki-laki?
Terus apa fungsinya penyamarataan derajat wanita dengan laki-laki? Gue, sebagai wanita tulen, gak ngerasa tuh punya derajat jauh di bawah laki-laki. Gue-pun bukan pengatun emansipasi wanita. Pih! Apaan tuh!
Kalau kata Almarhum Eyang Kakung gue, "Kartini itu cuma memperjuangkan haknya sebagai istri yang terkungkung, bukan hak seluruh wanita Indonesia. Dia yang bikin fungsi seorang wanita berantakan pada sebuah keluarga." Gue, Mamah, beserta jajaran direksi keluarga, setuju maksimal!
Sekarang begini deh, Allah menciptakan manusia sesuai fungsinya masing-masing. Bagaimana seorang laki-laki harus menafkahi wanitanya dan anak-anaknya. Lalu bagaimana seorang wanita berada di bawah kontrol suaminya. Lantas apasih fungsi emansipasi? Bikin istri ngebangkang suami? Beuuuuhhh.
Kalau wanita mau emansipasi, mau nyamain laki-laki, coba kerja jadi kuli bangunan deh, tukang parkir, supir bis, supir angkot. Memang udah beberapa, nah itu baru namanya laki! Kalo kerja di belakang meja doang mah, semua wanita juga bisa.
Terus wanita-wanita yang menganut emansipasi, kalo di angkutan umum seperti Transjakarta, kasih duduk wanita lain dong. Kan kalo laki-laki yang beneran laki begitu, ngasih tempat duduk ke wanita. Udah sanggup?
Terus kalau wanita kerja dan suaminya juga kerja, anak-anak diurus siapa? Udah bikin, ngelahirin, ditelantarin. Uang? Ya memang sih mereka butuh makan, susu, hiburan, tapi apa iya mereka lantas jadi gak butuh orangtuanya?
Kata Pak Faisal, "Kalian ini S1 Psikologi kan? Gunakan pendidikan kalian itu untuk mendidik anak kalian kelak. Kalau suami kalian gak ngebolehin kalian kerja, yaudah. Siapa yang ngerasa ilmunya sia-sia? Ya jelas enggak. Anak-anak kalian itu lebih butuh pendidikan dari kalian ini, dibandingkan kalian yang mau kerja di luar. Gak seberapa deh sama mendidik anak kalian."
Laki-laki itu berfungsi sebagai pondasi keluarga, kekuatan. Wanita sebagai penghangat dan peredam. Sudah jelas belum fungsi wanita sama laki-laki gimana?
Belum? Duh!
Kalau di Islam sendiri, kalo suaminya marah sama si istri, sholat si istri gak diterima, itu sih yg pernah gue baca. Tapi ya kalo urusan diterima atau enggaknya, cuma urusan Allah SWT o:) Kalau kata sahabat gue, @harumaspari, "Berarti istri tuh emang diketeknya suami banget yak?" He eh *manggut-manggut*

 Jadi sebagaimanapun kerasnya lo berusaha menyamaratakan derajat wanita dengan laki-laki, lo akan semakin terlihat, "How creepy you are." Karena di mata gue dan beberapa orang lainnya, wanita dan laki-laki punya derajat yang sama di mata Allah tergantung tingkat ketaqwaannya. Lalu yang berbeda dari mereka adalah fungsinya di keluarga dan dibeberapa 'tempat' Laki-laki pasti akan menghormati wanita sebagaimana wanita itu menghormati dirinya dan memfungsikan dirinya sendiri.
So lady, just do what are you for :)